Wawancara Khusus ‘Hari Kartini’ Dengan Ibu Asmara Dewi

Spread the love

asmara dewi

Ibu Asmara Dewi adalah Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) DPD PKS Jakarta Selatan

Berbusana kebaya dengan rok batik dan kerudung putih, Ibu Asmara Dewi menerima dan menyambut dengan ramah tim humas DPD PKS Jakarta Selatan yang mengunjungi  rumahnya pada 21 April untuk mengetahui pandangannya tentang perempuan Jakarta Selatan.

Kepada tim humas, Ibu Dewi begitulah Ketua BPKK DPD Jakarta Selatan akrab disapa kebanyakan orang, mengungkapkan ide-ide menariknya mengenai hak perempuan, posisi dan peran perempuan Jakarta Selatan. Juga bagaimana seharusnya perempuan Jakarta Selatan mengkonstruksikan perannya sebagai ibu. Ibu Dewi juga menyinggung tentang wanita pekerja di Jakarta Selatan, dan tentu saja Hari Kartini.

Pertanyaan pertama kami kepadanya adalah tentang aktivitas dan peran perempuan di Jakarta Selatan.

Ibu Asmara Dewi menjawab, “Saya senang sekali melihat perempuan Jakarta Selatan mempunyai peran dan aktivitas yang luar biasa. Mereka berkiprah di segala bidang kehidupan, di ekonomi, sosial, budaya, politik, pendidikan, olahraga, bahkan pertahanan dan keamanan. Tidak sedikit juga yang duduk di eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Kalau mereka bisa sukses karirnya di bidangnya masing – masing, harusnya inline juga di keluarganya. Mereka kaum perempuan juga harus suskes mengurusi rumah tanganya. Sehingga bisa melahirkan generasi – generasi yang sukses dan juga mumpuni mengarungi kehidupan.”

Berikut wawancara dengan Ibu Asmara Dewi selengkapnya.

HUMAS: Karena besarnya kebutuhan keluarga, banyak perempuan Jakarta memilih bekerja, kemudian timbul masalah-masalah setelahnya. Apa penilaian ibu?

ASMARA DEWI: Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan setiap tahun cenderung meningkat, angkanya mungkin sekarang sudah di atas 70 persen. Mayoritas mereka berada di sektor tembakau, tekstil, pakaian jadi, sepatu, kimia, plastik, elektronik, dan peralatan profesional/ilmu pengetahuan. Belum lagi untuk tenaga kerja perempuan di sektor jasa, dan informal seperti pasar swalayan, biro-biro perjalanan, pariwisata, pendidikan, dan lain-lain maka angkanya bisa jadi akan lebih besar. Dengan kondisi yang seperti ini, tidak aneh bila sangat sedikit perempuan yang berminat untuk beraktivitas di rumah, mengurus rumah tangga, mendidik anak-anaknya. Malahan kini justru dianggap aneh bila ada seorang perempuan (apalagi bila ia telah menyelesaikan pendidikan tinggi) yang purnawaktu (full time) bekerja di rumah, menjadi ibu rumah tangga, menjadi pengelola rumah tangga (domestic manager).

Islam tidak melarang wanita untuk bekerja atau melakukan aktivitas, ini adalah aktivitas yang dibolehkan (jaiz). Bahkan kadang-kadang ia dituntut dengan tuntutan sunnah atau wajib apabila ia membutuhkannya. Misalnya, karena ia seorang janda atau diceraikan suaminya, sedangkan tidak ada orang atau keluarga yang menanggung kebutuhan ekonominya, dan dia sendiri dapat melakukan suatu usaha untuk mencukupi dirinya dari minta-minta atau menunggu uluran tangan orang lain.

Selain itu, masyarakat sendiri kadang-kadang memerlukan pekerjaan wanita, seperti dalam mengobati dan merawat orang-orang wanita, mengajar anak-anak putri, dan kegiatan lain yang memerlukan tenaga khusus wanita. Maka yang utama adalah wanita bermuamalah dengan sesama wanita, bukan dengan laki-laki. Dalam sebuah riwayat bahwa Asma’ binti Abu Bakar, yang mempunyai dua ikat pinggang itu biasa membantu suaminya Zubair bin Awwam dalam mengurus kudanya, menumbuk biji-bijian untuk dimasak, sehingga ia juga sering membawanya di atas kepalanya dari kebun yang jauh dari Madinah.

Namun, seorang ibu tetaplah mempunyai tugas utama yaitu mengatur urusan rumah tangga termasuk mengawasi, mengatur dan membimbing anak-anak. Untuk itu, ibu yang bekerja di luar rumah harus bijaksana mengatur waktu. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga memang sangat mulia, tetapi tetap harus diingat bahwa tugas utama seorang ibu adalah mengatur rumah tangga. Ibu yang harus berangkat bekerja pagi hari dan pulang pada sore hari tetap harus meluangkan waktu untuk berkomunikasi, bercanda, memeriksa tugas-tugas sekolah anaknya meskipun ibu sangat capek setelah seharian bekerja di luar rumah. Tetapi pengorbanan tersebut akan menjadi suatu kebahagiaan jika melihat anak-anaknya bertumbuh menjadi pribadi yang kuat dan stabil.

HUMAS: Bagaimana ibu melihat eksploitasi perempuan di layar kaca?

ASMARA DEWI: Tidak sedikit media yang telah tereduksi ke dalam kepentingan pasar. Kepentingan bisnis tersebut memungkinkan perempuan dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengejar keuntungan besar dalam meraih pangsa pasar, yang sarat dengan persaingan ketat, sebagaimana dalam permainan dadu industri. Perempuan ditampilkan secara tidak bermoral, tidak memiliki nilai etika bersosial. Perempuan divisualisasikan ke dalam bentuk fisik yang sarat dengan tubuhnya; seksi dan berpakaian yang sangat minim. Oleh karena itu, media massa merupakan sarana pertunjukan yang memiliki panggung yang luas, ekspresi bebas, bahkan sampai pada eksploitasi hal-hal yang negatif. Serbuan menu media massa ini dapat menganggu eksistensi kehidupan manusia, baik eksistensi individu maupun sosial.

Justru disinilah problemnya. Wanita adalah komoditi, yang dijual kecantikan, wanita dikaitkan memiliki nilai jual untuk kepentingan ekonomi. Ini sebenarnya merupakan bentuk ‘penjualan’ wanita. Jelas ini pelecehan terhadap kaum perempuan. Sensualitas dalam dunia postmo sering tidak hanya sebagai alat pemenuhan kebutuhan biologis saja, tapi juga dijadikan pembangkit market sebuah produk ekonomi. Makanya, di budaya negara Barat (asing), penonjolan lekuk-lekuk tubuh wanita dalam iklan dan film tidak dianggap pelecehan wanita, tapi seni yang bisa mendongkrak produk ekonomi. Paradigma Barat seperti mengalami kebingungan tidak dapat membedakan antara seni, pelecehan dan hasrat seks. Pelecehan dinilai seni, penistaan dianggap dapat membangkitkan ekonomi, inilah yang kemudian kita kenal dengan budaya anti nilai.

Dalam Islam, wanita bukanlah alat dan tidak boleh dijadikan alat eksploitasi. Wanita harus dilindungi, bukan diumbar secara publik. Sebab, ketika wanita dipamerkan akan memicu fitnah syahwat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau dan Allah subhanahu wata’ala menjadikan kalian berketurunan di atasnya. Allah melihat apa yang kalian perbuat. Takutlah kepada (fitnah) dunia dan takutlah kepada fitnah wanita, karena sesungguhnya awal fitnah yang menimpa Bani Isra’il dari kecerobohannya terhadap wanita.” (HR. Muslim)

HUMAS: Bagaimana ibu memposisikan diri sebagai istri tetapi juga sebagai ketua BPKK DPD PKS Jaksel?

ASMARA DEWI: Sama dengan keluarga-keluarga lain. Seorang istri tentu saja mempunyai multiperan, adakalanya harus tampil sebagai pendamping suami, kadang juga sebagai ibu dari anak-anak, selain itu juga sebagai anggota masyarakat. Ada komitmen yang kuat antara saya dan suami mengenai bagaimana mengkondisikan keluarga agar tetap harmonis. Semua anggota keluarga harus sayang menyayangi, saling memperhatikan, saling tolong-menolong sehingga tercipta kondisi yang harmonis.Peran suami atau ayah juga sangat penting, kalau di luar beliau pencari nafkah, tapi begitu di dalam dia adalah kepala rumah tangga juga ayah dari anak-anaknya.

Sementara untuk amanah di BPKK DPD PKS Jaksel, alhamdulillah saya tidak bekerja sendirian, kami ada tim yang solid dan saling membantu, suasananya kental akan kekeluargaannya. Sudah ada job desk nya masing – masing, saya lebih sering memonitor dan mengarahkan program mana yang sudah jalan bagaimana evaluasinya, mana yang belum kenapa tidak berjalan dan seterusnya. Apalagi ada kebijakan ketua DPD PKS Jaksel untuk rapat – rapat yang melibatkan bidang perempuan tidak boleh sampai malam. Ini sangat membantu sekali sehingga kami di kepengurusan masih punya waktu untuk keluarga.

HUMAS: Apakah ibu memiliki tokoh panutan dalam bagaimana mengurus keluarga?

ASMARA DEWI: Tentu saja ibunda saya sendiri. Saya melihat ibunda saya, dengan tujuh orang anak, kok bisa mendidik putra-putrinya menjadi seperti sekarang ini. Saya melihat ketegaran seorang ibu, kasih sayang yang diberikannya, baik kepada suaminya, maupun putra-putrinya. Itu yang menjadi panutan saya. Ibu saya mengajari kami nilai – nilai agama, sopan santun, bersikap kepada orangtua, bagaimana menata rumah tangga, memasak, dan menemani putra-putrinya belajar. Itu semua tugas seorang ibu, jadi inilah yang saya adopsi. Ibu saya adalah madrasah terbaik bagi saya dan saudara – saudara saya.

HUMAS: Bagaimanakah cara ibu dalam membesarkan dan mendidik putra – putri?

ASMARA DEWI: Alhamdulillah saya mendapat titipan Allah tujuh orang anak. Saya keep in touch dalam pendidikan anak. Pada waktu mereka masih kecil, saya memberikan perhatian dan kasih sayang kepada mereka. Perhatian saya sangat penuh kepada anak-anak, memberikan kesempatan kepada mereka untuk berkreativitas dan menyampaikan kreativitasnya. Saya memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menyampaikan apa keinginannya. Kita arahkan dan mendukung, mendorong dan memberikan fasilitas atas keinginan positif atau cita – cita yang anak – anak inginkan.

HUMAS: Sebagai ketua BPKK DPD Jaksel, apa impian ibu?

ASMARA DEWI: Kalau saya berkeliling ke seluruh Jakarta Selatan bersama dengan tim, saya masih melihat ada hal – hal yang perlu diperbaiki. Di situ, saya bertanya, apa ya, yang bisa kami kerjakan untuk mereka. Saat ini kami di BPKK DPD PKS Jaksel memiliki program mewujudkan keluarga yang kokoh melalui program Ketahanan Keluarga, Rumah Keluarga Indonesia, Pos Wanita Keadilan, Pos Ekonomi Keluqrga, Peningkatan Kapasitas Perempuan, serta menjalin hubungan dengan lembaga perempuan lainnya. Kenapa kami fokus di keluarga, karena keluarga ini merupakan unit terkecil dalam masyarakat, jika keluarga baik maka akan terwujud masyarakat yang baik dan kokoh, jika masyarakat sudah baik dan kokoh maka otomatis negara juga akan baik dan kokoh juga.

Bersama tim ibu – ibu BPKK, SPKK kecamatan, dan UPKK kelurahan, kami mengembangkan program ketahanan keluarga melalui pelatihan, pengajaran, pemberdayaan perempuan, pelayanan serta perlindungan perempuan serta keluarga. Kami bersama-sama dengan Rumah Keluarga Indonesia (RKI) se Jakarta Selatan menyiapkan taman baca yang menyediakan buku-buku berkualitas  yang menjadi sahabat anak anak. Kami berharap sumbangsih ini bisa  mewujudkan generasi yang cerdas dan kokoh secara intelektualitas. Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan keluarga,  bersama RKI juga memberikan pelatihan untuk menumbuhkan kreatifitas di aspek ekonomi dan finansial guna meningkatan pendapatan kekuarga.

Sesama kita harus peduli. Kalau sesama masyarakat Jakarta Selatan sudah peduli, seperti yang kaya sudah memperhatikan yang miskin, yang mampu memperhatikan kepada yang kurang mampu, yang berdaya memberdayakan yang kurang berdaya, maka kami kira kita akan mencapai apa yang disebut dengan kesejahteraan. Impian saya, sama dengan yang masyarakat Jakarta Selatan impikan, yaitu Jakarta Selatan yang sejahtera.

HUMAS: Apa pesan ibu untuk perempuan Jakarta Selatan yang akan memperingati Hari Kartini?

ASMARA DEWI: Saya punya pesan khusus untuk kaum perempuan Jakarta Selatan, marilah kita kaum perempuan di manapun berada, kita memperbaiki diri dan mengokohkan keluarga, dan mencetak generasi baik, dan kita perjuangkan apa yang menjadi cita-cita bersama, yaitu kesejahteraan dan ketahanan keluarga. Saya yakin kalau kita bekerja bersama, bergandeng tangan bersama, tentu saja kita akan bisa mencapai keluarga yang kokoh, sakinah mawaddah warohmah, dan masyarakat yang penuh rahmat dari Allah SWT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *