Untuk Jakarta Maju dan Bahagia, Yuk Coblos Pecinya !

Spread the love
al mansur hidayatullah dpd jaksel
oleh Al Mansur Hidayatullah, Ketua DPD PKS Jaksel

Semua muslim Indonesia tentunya sudah sangat tidak asing lagi dengan benda yang sering digunakan oleh kaum laki-laki muslim ketika sedang ibadah sholat ataupun dalam acara-acara keagamaan dan yang lain. Itulah peci hitam yang umumnya dari bahan beludru. Peci yang sejarahnya sangat kental dengan pergerakan nasional bangsa Indonesia.

Ada kemiripan penampilan antara pasangan Cagub Cawagub DKI Anies Sandi dengan Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno. Mereka sama-sama tidak meninggalkan tradisi dan atribut pakaian nasional berupa Peci di kepala. Insinyur Soekarno termasuk salah satu orang yang mempopulerkan peci Indonesia. Ia tidak pernah melepaskannya dalam banyak kegiatan kenegaraan, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Di masa penjajahan, Ir Soekarno mengenakan peci sebagai simbol pergerakan dan perlawanan terhadap penjajah, hal ini tertulis dalam buku otobiografinya yang ditulis oleh Cindy Adams. Dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, sang penulis Cindy Adams menuturkan, Soekarno pernah berkata, “Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia.”

Juni 1921, Bung Karno menemukan solusi. Ia memilih pakai peci saat pertemuan Jong Java di Surabaya. Bung Karno bicara, “Kita memerlukan suatu lambang daripada kepribadian Indonesia.” Peci …., kata Bung Karno pula, “Dipakai oleh pekerja-pekerja dari bangsa Melayu. Dan itu asli kepunyaan rakyat kita.” Menurut Bung Karno, kata “peci” berasal dari bahasa Belanda, kata “pet” (topi) dan “je”, yang berarti kecil. Baik dari sejarah pemakaian dan penyebutan namanya, peci mencerminkan Indonesia: satu bangunan “inter-kultur”. Sejak saat itu, dari mana pun asalnya, apapun agamanya, hampir semua kaum pergerakan memakai peci.

Sementara di dalam literatur dan cerita, kita menemukan banyak sekali cerita dan filosofi kata peci itu.  Pertama, peci merupakan rintisan dari Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga saat itu membuat mahkota khusus untuk Sultan Fatah yang diberi nama kuluk yang memiliki bantuk lebih sederhana daripada mahkota ayahnya, Raja terakhir Majapahit Brawijaya V. Kuluk ini mirip peci, hanya ukurannya lebih besar.

Kedua, ada pula yang berpendapat bahwa Laksmana Ceng Ho yang membawa peci dari daratan Cina ke Indonesia. Peci berasal dari kata Pe (artinya delapan) dan Chi (artinya energi), sehingga arti peci itu sendiri merupakan alat untuk penutup bagian tubuh yang bisa memancarkan energinya ke delapan penjuru angin.

Ketiga, peci disebut juga dengan istilah songkok yang berarti “Kosong dari Mangkok.” Filosofinya adalah hidup ini seperti mangkok yang kosong, oleh karenanya harus diisi dengan ilmu dan berkah.

Menurut Rozan Yunos dalam “The Origin of the Songkok or Kopiah” dalam The Brunei Times, 23 September 2007, songkok diperkenalkan para pedagang Arab, yang juga menyebarkan agama Islam. Pada saat yang sama, dikenal pula serban atau turban. Namun, serban dipakai oleh para cendekiawan Islam atau ulama, bukan orang biasa. “Menurut para ahli, songkok menjadi pemandangan umum di Kepulauan Malaya sekitar abad ke-13, saat Islam mulai mengakar,” tulis Rozan. Istilah songkok lebih dikenal di wilayah Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Selatan Thailand.

Keempat, peci juga sering disebut dengan kata Kopiah, ini berasal dari “Kosong karena Dipuah” maknanya, kosong karena dibuang (di pyah). Apa yang dibuang? Kebodohan dan rasa iri hati serta dengki yang merupakan penyakit buruk manusia.

Peci merupakan pemandangan umum di tanah melayu sejak abad 13. Saat Raja Ternate Zainal Abidin (1486-1500) belajar agama Islam di madrasah Giri, ia membawa oleh-oleh peci saat pulang ke kampung halaman.

Peci itu selain menjadi simbol muslim Indonesia juga merupakan simbol budaya dari bangsa Indonesia khususnya dan bangsa Melayu pada umumnya. Sementara saat ini, peci banyak dipakai saat ibadah orang muslim Indonesia yang laki – laki, hal itu dimaksudkan untuk menutup kepala dari tertutupnya rambut disaat sujud ketika sholat. Dan di beberapa negara muslim, bisa dijumpai macam – macam penutup kepala yang dikenakan dalam sholat, seperti kain sorban oleh orang Arab, peci panjang orang Turki, begitupun di India.

Di beberapa negara Islam, sesuatu yang mirip peci tetap populer. Di Turki, ada fez dan di Mesir ada yang disebut dengan tarboosh. Fez berasal dari Yunani Kuno dan diadopsi oleh Turki Ottoman. Di Istanbul sendiri, topi fez ini juga dikenal dengan nama fezzi, pelafalannya “pechi” mirip dengan sebutan peci di Indonesia. Di Asia Selatan (India, Pakistan, dan Bangladesh) fez dikenal sebagai Roman Cap (Topi Romawi) atau Rumi Cap (Topi Rumi). Ini menjadi simbol identitas Islam dan menunjukkan dukungan Muslim India atas kekhalifahan yang dipimpin Kekaisaran Ottoman. Bentuk peci agak berbeda dengan yang dari timur tengah, pada bagian atas peci memilik lipatan jahitan lebih kaku dibanding penutup kepala dari negara-negara arab. Karenanya, ada yang menyebut bahwa peci hasil modifikasi blangkon Jawa dengan surban Arab. Selain khas untuk umat Islam, tapi patut diingat juga bahwa peci juga merupakan ikon nasional. Siapa pun berhak memakai peci sebagai lambang identitas Indonesia. Inilah yang digagas oleh Soekarno, sang Founding Father negeri ini. Peci yang memiliki sifat khas ini adalah asli milik rakyat Indonesia. Memakai peci juga menggambarkan Kemerdekaan Indonesia, sebuah semangaat untuk tidak terjajah budaya asing.

Nah, sekarang jangan sungkan, jangan alergi dengan peci dan justru harus bangga menjadi orang Indonesia yang berpeci. Peci adalah salah satu simbol yang juga menjadikan Indonesia terkenal di dunia dalam sejarah panjang negeri ini. Semoga dengan warisan budaya berupa peci dan orang yang memakainya memaknai bahwa dia benar-benar orang Indonesia yang merdeka, punya harkat dan martabat tinggi di mata bangsa lain dan terutama di mata bangsa sendiri. Oleh karena itu, tunggu apa lagi … Coblos Pecinya Nomor 3. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau tidak sekarang kapan lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *