Ulang Tahun ke-490 Jakarta, Al Mansur Ajak Umat Bersyukur dan Lakukan Refleksi

Spread the love

ketua DPD al mansur hidayatullahJakarta sebagai ibukota Indonesia identik dengan kehidupan metropolitan yang gemerlap dan hedonis. Tetapi cahaya religiusitas masih bersinar di kota ini, cahaya itu kian terasa di akhir – akhir ramadhan seperti saat ini. Jakarta kini, 22 Juni 2017 memasuki usianya yang ke-490. Ibu Kota Indonesia itu lahir pada 22 Juni 1527 dengan nama Jayakarta. Tanggal tersebut diketahui merupakan hari di mana pasukan Fatahillah sebagai panglima Kesultanan Demak merebut Sunda Kelapa dari kekuasaan Portugis. 490 sebuah usia yang harusnya sudah cukup matang dan dewasa untuk menyelesaikan berbagai masalah internalnya. Namun kita ketahui bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan sampai kini. Kini ulang tahun Jakarta terjadi di akhir – akhir bulan ramadhan, di 10 hari terkahir bulan ramadhan, dimana sebagain warga Jakarta duduk bersimpuh memanjatkan doa dan dzikir di masjid – masjid, sholat taraweh atau sholat malam, itikaf, khataman Qur’an dan lain – lain.

“Sudah sepantasnya, tahun ini kita mengisi ulang tahun Jakarta dengan semangat keberkahan bulan Ramadhan, keberkahan di hari – hari akhir ramadhan,” tegas Ketua DPD PKS Jaksel, Al Mansur. Ramadhan yang artinya bulan kemenangan, ini bisa menjadi spirit para warga Jakarta untuk mewujudkan sebuah Jakarta yang maju kotanya, bahagia warganya, religius ibadahnya, aman dan nyaman lingkungannya.

Al Mansur memaparkan peran-peran umat Islam dalam sejarah Jakarta, tidak hanya dalam bentuk perjuangan fisik, ide dan gagasan tentang Jakarta, namun juga soal toleransi. Pembangunan Jakarta bukan hanya dengan membangun dan menata keindahan dan kemajuan secara fisik. Namun yang utama adalah membangun moral dan perilaku masyarakatnya. “Yang paling utama adalah membangun manusianya yang berakhlak,” Ujar Al Mansur.

Sekalipun mayoritas masyarakat Jakarta beragama Islam, namun keharomonisan dalam demokrasi antar umat beragama tetap terjaga, walaupun sempat ada pihak – pihak yang mengkhawatirkan saat pilkada 2017 kemarin. Tetapi secara umum, demokrasi dan kemanan tetap terkendali. “Demokrasi dan Islam di Jakarta adalah sebuah bentuk harmoni yang saling memberikan warna, tidak usah dipertentangkan antara keduanya, sehingga akan melahirkan paduan keserasian dan keseimbangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Jakarta ini,” kata Al Mansur, Ketua DPD PKS Jaksel.

Oleh karena itu, makna ulang tahun menjadi pesan yang kuat bahwa Ramadhan merupakan bulan kemerdekaan, bulan titik tolak menjadi lebih baik bagi warga Jakarta. Peringatan ulang tahun Jakarta di bulan Ramadhan ini juga diharapkan Jakarta bisa lebih bersyukur. Bersyukur dalam arti mengedepankan keteladanan dalam berperilaku dan bertutur kata. Bukan sebaliknya mempertontonkan kepongahan dan kesombongan kekuasaan. Selain itu, momen ulang tahun Jakarta saat ramadhan, semakin menegaskan bahwa kontribusi umat Islam tidak pernah putus sepanjang sejarah Jakarta. “Kontribusi umat Islam, tokoh pergerakan, para kyai dan santri dalam usaha-usaha memajukan Jakarta bisa dicatat dengan tinta emas dan tidak terbantahkan. Inilah kebanggaan yang seharusnya diwarisi oleh umat Islam saat ini dalam mengisi Jakarta hari ini dan esok,” tegas Al Mansur. Artinya, lanjut Al Mansur umat Islam harus bisa mengambil tanggung jawab atas kemajuan Jakarta ini. Jangan sampai umat Islam justru menjadi bagian dari problem Jakarta karena tidak sadar sejarah dan abai pada tanggung jawab sejarahnya. “Umat Islam harus terdepan dalam menjaga Jakarta. Menjaga agar Jakarta tetap ber-Ketuhanan, punya rasa kemanusiaan yang tinggi, hadirkan persatuan dan kesatuan dalam bingkai kebhinnekaan, bangun demokrasi bermartabat, serta dorong keadilan sosial bagi seluruh rakyat,” papar Al Mansur yang asli Betawi ini.

Menurut Al Mansur, peningkatan peran dan kontribusi umat Islam semakin penting dalam menjaga Jakarta yang sedang menghadapi tantangan bahkan ancaman yang merongrong identitas dan karakter kebangsaan dalam semua aspek: ideologi, politik, ekonomi, hankam, dan sosial budaya. “Masifitas serbuan ideologi asing telah melemahkan jati diri dan karakter kita sebagai warga Jakarta dalam seluruh aspek,” kata Al Mansur.

Antuasiasme warga Jakarta terhadap agama masih sangat tinggi, bahkan makin tinggi. Di tengah arus budaya sekuler dunia barat yang makin deras, ateisme yang juga tidak sedikit, warga Jakarta masih cukup kokoh berpegang pada religiusitas. Al Mansur menegaskan bahwa nilai-nilai agama dan religiusitas masih sebagai salah satu identitas Jakarta saat ini. Jakarta sejatinya adalah kota yang religius. Warganya sangat menjunjung tinggi nilai agama, dan itulah yang harus dijaga, dipelihara, dan dikembangkan. Agama merupakan faktor perajut dan perangkai keragaman yang sangat plural sehingga keutuhan dan kesatuannya tetap terjaga. Nilai agama itulah sesungguhya yang berfungsi menjaga keutuhan kita. Apapun etnis dan suku bangsa kita, semua harus menjunjung tinggi nilai agama.

Di lain pihak, Al Mansur juga menegaskan bahwa Jakarta ini dihadapkan pada tantangan kompetisi dunia yang sangat ketat. Artinya, umat Islam sebagai bagian dari warga Jakarta harus terpanggil menjawab kompetisi ini ke depan. “Untuk menjawab tantangan itu, dari rahim umat harus lahir SDM unggul berkualitas yang menguasai iptek tapi dengan kualitas imtak (iman takwa) yang juga unggul. Ini tanggung jawab besar umat Islam Jakarta saat ini untuk mewujudkan Jakarta Maju,” pungkas Al Mansur. Dalam rangka melanjutkan estafet peran dan kuntribusi umat di Jakarta, Al mansur mengajak seluruh elemen umat Islam di Jakarta untuk bersatu, membangun dan menumbuhkan kesadaran sejarah umat, menyamakan pemahaman dan persepsi, serta menyatukan langkah untuk Jakarta yang bermartabat dan berkemajuan ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *