PKS Soroti Infrastruktur Tol yang Tak Berdaya Hadapi Puncak Arus Mudik dan Balik Lebaran

Spread the love
Macet Jalan Tol saat OneWay Arus Balik Lebaran 2019 Sumber Gambar : Liputan6.Com

Ketua Bidang Kesra PKS Jaksel, Ibu Erniwati memberi apresiasi dan kritik kepada pemerintah terkait arus mudik dan arus balik 2019. Apresiasi diberikan Erniwati terkait dengan masa cuti bersama yang dinilai memecah kepadatan untuk arus mudik 2019. “Karena cuti bersama sebelum lebaran panjang waktunya, warga punya banyak pilihan waktu mudik sekitar 9 harian. Arus mudik tidak menumpuk pulang di hari yang berdekatan. Dengan demikian, mudik bisa lebih lancer, walaupun saat hari H justru arus mudik mengalami macet panjang. Itu fakta. dan itu patut diapresiasi,” kata Erniwati di kantor DPD PKS Jaksel, Senin (10/6/2019).

Namun ada sejumlah hal yang menurut Erniwati harus dibenahi terkait mudik. Salah satunya soal kemacetan yang masih terjadi, khususnya saat arus balik.”Ada macet 20 km lebih di Cipali arah Cikampek. Termasuk juga kemarin ketika diberlakukan oneway ternyata juga belum bisa menguraikan kemacetan saat arus balik tanggal 8 -9 Juni, justru warga mau keluar dari Jakarta malah juga terjebak macet yang luar biasa, baik di tol maupun di jalan arteri,” ungkapnya.

“Setiap tahun juga terus berulang mengenai rest area, hasil evalusi lebaran tahun – tahun sebelumnya selalu menitikberatkan pada penambahan rest area, tetapi masalah rest area ini setaip tahun juga terus terjadi dan terulang lagi masalahnya,” ujarnya.

Pemerintah juga dinilai terlalu menggembar-gemborkan pembangunan jalan tol. Ternyata, jalan tol bukan solusi utama mengatasi kemacetan mudik. Klaim keberhasilan terlalu dini yang digembar-gemborkan di media ternyata tak sesuai realita. ”Seberapa lebar dan panjangnya jalur tol, jika tidak dibarengi dengan kebijakan transportasi masal dan pengurangan kendaraan, maka sampai kapanpun jalan tol tidak akan cukup untuk puncak arus mudik atau balik,” tmabh Erniwati.

Sebagian besar pemudik akhirnya masih harus merasakan tradisi yang tak bisa hilang dari sejak zaman dulu, yakni macet. Uniknya, kemacetan pada lebaran 2019 kali ini terjadi setelah puncak mudik yang diprediksi pemerintah. Sebelumnya puncak mudik diprediksi pada Jumat 31 Mei 2018, namun kemudian direvisi oleh Kemenhub menjadi Sabtu, 1 Juni 2019. Dan benar, perjalanan mudik pada hari tersebut macet parah. Pemudik harus merasakan waktu tempuh sembilan jam untuk 260 KM.

Kemacetan bukan hanya terjadi di Sabtu (1/6) yang disebut sebagai puncak mudik. Ternyata, kemacetan juga terjadi pada hari H lebaran, H+1 lebaran dan H+2.  Kondisi macet di arus mudik memang berbeda cukup ekstrem dengan perjalanan pada H-5 dan H-6. Saat itu Jakarta-Semarang yang berjarak lebih dari 400 KM bisa ditempuh selama 5 jam. Saat itu rekayasa lalu lintas berupa contraflow dan one way menjadi faktor signifikan mempercepat perjalanan. Sampai H-1 (volume kendaraan) naik hanya 1%, sementara H+1 dan H+2 ada kecenderungan naik ekstrem 4%.

Waktu balik ke Jakarta yang disisakan oleh pemerintah lewat cuti bersama, hanya 3 hari dari tanggal 7 – 9 Juni 2019. Berbekal one way dari Gerbang Tol Kalikangkung sampai Tol Cikampek dan dilanjutkan contraflow di tol Cikampek Jakarta. Ternyata amunisi rekayasa lalu lintas itu pun tidak berdaya menghadapi lonjakan mobil pribadi yang ingin kembali ke rumah masing-masing. Seorang pengemudi memberikan testimoni bahwa perjalanan sepanjang 21 KM di Tol Cipali membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Sebanyak enam lajur, macet parah dari KM 93, mulai macet dari jam 20.00 WIB.

“Apapun alasannya, kemacetan baik pada arus mudik dan arus balik masih terjadi pada lebaran 2019 kali ini. Ratusan ribu orang pun merasakan bahwa Tol Trans Jawa yang panjang dan megah itu belum mampu menghadapi arus mudik dan arus balik tanpa pengelolaan yang tepat,” Tutup Erniwati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *