PKS Jaksel Dukung Kewajiban Uji Emisi Kendaraan Ibu Kota

Spread the love

Pemprov DKI Jakarta akan mewajibkan uji emisi untuk kendaraan di DKI Jakarta. Pemberlakuannya akan efektif di Januari 2021, kabarnya pada tanggal 24 Januari mendatang. Pemprov DKI Jakarta mewajibkan setiap kendaraan berusia di atas 3 tahun yang ada di Ibu Kota harus lulus uji emisi. Aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 66 Tahun 2020 tentang uji emisi gas buang kendaraan bermotor, pengganti Peraturan Gubernur Nomor 92 Tahun 2007. DLH DKI akan mengukur gas buang kendaraan bermotor untuk mendeteksi kinerja mesin kendaraan.

Program ini menunjukan bahwa Pemprov DKI Jakarta serius berupaya mengurangi tingkat polusi udara di Ibu Kota, namun juga partisipasi seluruh masyarakat Jakarta juga sangat diperlukan untuk bersama menjaga Jakarta.

Faktor utama yang membuat polusi udara di ibu kota semakin parah adalah emisi kendaraan bermotor. Penyebab polusi udara di Jakarta, 75 persen itu transportasi,  selebihnya, ada aktivitas industri dan domestik. Di Jakarta itu ada 17 juta kendaraan bermotor, bisa dibayangkan kualitas udara yang dihasilkan akibat dari residu polutan itu.

Akan ada sanksi bagi kendaraan yang tidak mematuhi aturan ini. Sanksi akan mengacu pada undang-undang 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Sanksi yang disiapkan bukan sekadar tilang, kendaraan yang tak lolos uji emisi bisa mendapat sanksi penambahan biaya parkir pada tempat perbelanjaan, di pertokoan dan juga denda maksimal Rp 500 ribu.

Ketua PKS Jaksel, Al Mansur Hidayatullah mendukung terealisasinya Jakarta Langit Biru, salah satunya melalui program lolos uji emisi kendaraan. “Dengan program uji emisi ini, kita akan mengetahui kadar zat yang berbahaya atau tidak bagus untuk lingkungan, dan ini akan membantu terealisasinya program Jakarta Langit Biru,” kata Al Mansur.

Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta bahwa selama tahun 2020 periode Januari-Juni sebanyak 3.869 kendaraan sudah melakukan uji emisi. Sebanyak 3.771 kendaraan dinyatakan lulus uji emisi dan 98 tidak lulus. Kendaraan yang paling banyak lulus uji emisi yaitu merk Toyota sebanyak 1.602 kendaraan, kemudian Mitsubishi 562 kendaraan dan Daihatsu 488 kendaraan, ada juga merk kendaraan seperti Sumitomo dan Mercedez Benz.

Sementara kendaraan yang tidak lulus uji emisi, jumlahnya sangat sedikit, berdasarkan merknya jumlah paling banyak tidak lolos uji emisi bermerk Mitsubishi dengan sampel 595 kendaraan, Isuzu 21 kendaraan dari 261 kendaraan, dan yang paling sedkit merk Honda dan Chevrolet. Kendaraan berbahan bakar bensin lebih banyak yang lulus uji emisi, sedangkan yang tidak lulus sebanyak 1.645 kendaraan. Berdasarkan tahun pembuatan kendaraan, jumlah kendaraan tahun 2010 sampai 2018 lebih banyak yang lulus uji emisi karena sampel pengujian untuk tahun tersebut juga banyak dibandingkan dengan tahun 2009 ke bawah.

Al Mansur juga menambahkan bahwa sejumlah manfaat dari uji emisi, di antaranya pemilik kendaraan dapat mengetahui tingkat efektivitas proses pembakaran bahan bakar. Hal ini juga akan membantu pemilik mobil menyetel campuran udara dan bahan bakar secara cepat. “Artinya kita dapat menghemat bahan bakar dan mengoptimalkan tenaga mesin mobil dan membuat lingkungan semakin sehat karena udara yang bersih,” tambahnya.

Melalui uji emisi pengendara juga bisa mengetahui kinerja mesin kendaraannya dalam keadaan sehat atau tidak. Pengendara, sambung Al Mansur, akan dapat mengetahui kerusakan pada bagian mesin kendaraan.

“Kabarnya setelah lulus uji emisi, akan diberikan bukti lulus uji emisi yang dicetak dari sistem informasi uji emisi dan juga ada keterangan lulus uji emisi dalam sistem informasi uji emisi tersebut, kalau data hasil ini bisa link ke bagian lain dan dionline maka akan lebih efektif dan masif kemanfaatannya,” tambah Al Mansur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *