PKS Jaksel Berharap Alat Ventilator Segera Dipenuhi Dari Anggaran Pemerintah

Spread the love

Ibu Erniawati, Ketua Bidang Sosial PKS Jaksel mengatakan bahwa Gugus Tugas Covid-19 telah memproyeksikan kebutuhan ventilator untuk penanganan pasien virus corona di Indonesia mencapai sekitar 29,9 ribu unit. Namun, ketersediaan alat tersebut baru sebanyak 8,4 ribu unit per Maret 2020. Namun kenyataannya hanya empat provinsi yang memiliki ventilator lebih dari setengah kebutuhan di wilayahnya, yaitu Kalimantan Utara (72,7%), Bangka Belitung (69,8%), DKI Jakarta (55,9%), dan Sulawesi Barat (51,6%). Sementara itu, ketersediaannya di provinsi-provinsi lain ada di kisaran 20-30%.

Salah satu masalah pada pasien yang terkena virus corona (Covid-19) adalah sesak napas. Oleh karenanya, banyak rumah sakit di seluruh dunia sangat membutuhkan alat bantu pernapasan atau ventilator. “Angka kematian tinggi, salah satunya karena minimnya ventilator yang dimiliki rumah sakit-rumah sakit rujukan di pusat maupun di daerah. Sulitnya pasien positif Covid-19 bernafas memperburuk kondisi pasien sehingga meningkatkan angka kematian,” tegas Ibu Erniwati.

Virus Corona COVID-19, diketahui menyerang saluran udara dan mengganggu fungsi normal sel-sel pada paru-paru. Saat pasien sakit kritis dan kesulitan untuk bernapas, maka ventilator mempunyai peran penting untuk membantu pasien bernapas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan 1 dari 6 orang penderita virus Corona (Covid-19) mengalami sakit serius dan kesulitan bernapas.

Ventilator ini dapat mendeteksi kapan pasien ingin bernapas dan membantu proses tersebut, memastikan tekanan udara dan campuran oksigen yang tepat. Selain itu, ventilator dapat meminimalisir efek samping pada jaringan paru-paru yang rapuh.

Ventilator versi awal hanya mendorong udara ke paru-paru dengan ritme yang konstan. Sementara versi modernnya memiliki dua mode dasar: tipe yang menghadirkan preset volume oksigen dan tipe yang memberikan peset tingkat tekanan. Ventilator juga mengontrol tekanan akhir ekspirasi positif (positive end-expiratory pressure / PEEP), tekanan udara residu yang mencegah paru-paru agar tidak kolaps, ukuran metrik yang bervariasi pada kondisi pesien. Alat ini juga dapat diatur untuk mendeteksi ketika seorang pasien ingin bernapas, ketimbang sepenuhnya mengendalikan pernapasan pasien.

Jakarta saat ini membutuhkan 170 unit ventilator atau alat bantu pernapasan untuk menangani pasien Covid-19. “Ada kekurangan ventilator sebanyak 170 unit dari jumlah yang telah dimiliki Rumah Sakit di Jakarta sekarang,” tambah Ibu Erniwati.

Hingga 16 April 2020, jumlah pasien Covid-19 di DKI Jakarta telah mencapai 2.670 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 202 orang dinyatakan sembuh dan 248 orang meninggal dunia. Saat ini sudah ada 947 unit ventilator di Jakarta, namun jumlah tersebut masih akan kurang untuk memenuhi kebutuhan pasien Covid-19 yang semakin bertambah. Ibu Erniwati menambahkan bahwa, kebutuhan ventilator di rumah sakit rujukan Covid-19 terbilang cukup tinggi. Sebagai contoh, Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, sekitar 40% dari pasien yang dirujuk ke RSUP Persahabatan membutuhkan perawatan dengan ventilator. Adapun pasien rujukan ini merupakan pasien dengan kondisi pneumonia berat yang disertai komplikasi, sehingga, pasien sudah kesulitan bernapas. “Sehingga kita harus memperkirakan sekitar 30-40% pasien yang dirawat di rumah sakit rujukan itu butuh ventilator,” ujar alumni UI ini.

Erniwati berharap kebutuhan ventilator tersebut dapat segera dipenuhi oleh para produsen dalam negeri, mengingat ketersediannya sulit mengingat semua negara juga sedang mencari dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Sebagian dari anggaran Covid-19 pemerintah pusat yang sebesar Rp 405 Triliun itu bisa digunakan untuk biaya produksi ventilator oleh produsen dalam negeri.

PKS banyak menerima pengaduan dari berbagai pihak terutama pengelola rumah sakit dan tenaga medis yang mengeluhkan sulitnya mendapatkan ventilator. Padahal, jumlah pasien Covid-19 terus mengalami kenaikan di berbagai daerah.

“Harus ada terobosan agar kebutuhan ventilator tersedia di ruamh sakit. Dalam kondisi darurat seperti sekarang ini, tidak bisa lagi business as usual, namun harus bisa bergerak cepat karena kondisinya sudah darurat,” ungkap Ibu Erniwati.

Para anggota legislatif PKS di DPR RI telah berulang kali mendesak Kementerian BUMN untuk menugaskan sejumlah BUMN strategis agar dapat memproduksi ventilator (alat bantu pernafasan) karena kebutuhannya saat ini sangat tinggi. Para legislator PKS juga terus mendesak Kementerian Perindustrian untuk tidak lagi menghimbau namun harus bisa “memaksa” industri otomotif berpartisipasi aktif memproduksi ventilator, seperti yang dilakukan pemerintah – pemerintah di luar negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *