Mengambil Pelajaran Visi Peradaban dari Sejarah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam

Spread the love
al mansur 2
Oleh : Ustadz Al Mansur Hidayatullah

Tidak lama lagi umat Islam akan dipertemukan lagi dengan bulan Dzulhijjah. Bulan Dzulhijjah adalah momentum untuk mempertahankan gelar taqwa yang sudah tersemat selepas bulan Ramadhan. Ada dua hal yang selalu diingat ketika mendengar nama bulan Dzulhijjah yakni ibadah haji dan qurban.

Ibadah haji termasuk dalam rukun islam, Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam dibangun atas lima pekara. (1) Persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad itu Rasul Allah, (2) mendirikan shalat, (3) mengeluarkan zakat, (4) melaksanakan ibadah haji, dan (5) berpuasa Ramadhan”. [HR Bukhari dan Muslim].

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam. Karena di dalamnya terdapat amalan-amalan mulia seperti shaum Arafah, haji ke Baitullah, ibadah qurban, dan lain sebagainya. Pada sejumlah momen di bulan Dzulhijjah tersebut hakikatnya tidak bisa dipisahkan dari sosok Nabi Ibrahim a.s.

Nabi Ibrahim, dijuluki uswatun hasanah sebanyak dua kali di dalam Al Qur’an, yakni di surah Mumtahanah ayat 4 dan 6 yang berbunyi “Qad kaanat lakum uswatun hasanatun fii ibrahiima walladziina ma’ahu” yang artinya “Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya”. Sebutan ini melebihi jumlah sebutan uswatun hasanah pada Rasulullah yang terdapat di surah Al Ahzab ayat 21.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga memberikan tempat istimewa bagi Ibrahim, yakni sebuah surah dengan nama Ibrahim, selain itu disebutkan juga kata “millata Ibrahiim” yang berarti agama Ibrahim di dalam Al Qur’an sebanyak 9 kali. Masih tentang Nabi Ibrahim, dipandang tidak sempurna sebuah shalawat yang dihaturkan kepada Rasulullah jika tanpa menyebut nama Ibrahim. Bahkan, ummat Islam yang pada hari ini menunaikan ibadah haji dan umroh di tanah suci juga menapak tilasi perjuangan Ibrahim a.s.

Allah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firmannya di surah An Nahl ayat 120-122 menjelaskan bahwa ada karakter – karakter Nabi Ibrahim as yang begitu mulia sehingga menjadikannya istimewa di hadapan Allah. Disebutkan, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan), patuh kepada Allah dan hanif. Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang mempersekutukan Allah), dia mensyukuri nikmat-nikmatNya. Allah telah memilihnya dan menunjukinya ke jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia, dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang yang shaleh.”

Mari coba kita bedah ayat-ayat ini. Karakter Ibrahim yang pertama,”Inna ibrahima kana ummatan”, disini dipilih diksi al ummah karena Nabi Ibrahim as itu meskipun ia hanya seorang tapi ia seperti sekumpulan banyak orang dalam sebuah pribadi. Selain itu, disebut al ummah karena ia mengajarkan kebaikan-kebaikan sehingga sampai hari ini pun ia banyak diikuti oleh orang-orang di seluruh dunia. Kebaikan-kebaikan Nabi Ibrahim as itu adalah kumpulan investasi. Ia menjadikan istrinya, anaknya dan seluruh yang ia punyai sebagai sarana mengajarkan kebaikan yang banyak. Kita faham bahwa dengan mengajarkan kebaikan kepada orang lain maka kita akan mendapatkan pahala yang sama yang akan menjadi investasi dunia akhirat.

Sekian lama berdakwah, Nabi Ibrahim hanya memperoleh dua orang pengikut. Mereka adalah Sarah dan Luth. Sarah adalah wanita salehah yang kelak menjadi istri Nabi Ibrahim. Sedangkan, Luth adalah kemenakan Nabi Ibrahim a.s.  Maka Luth membenarkan kenabiannya dan berkatalah Ibrahim : “Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku). Sesungguhnya Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Ankabut: 26)

Pernahkah kita memikirkan bagaimana Nabi Ibrahim as memulai sebuah kehidupan baru tanpa siapa-siapa dan tanpa apa-apa? Bagaimana mereka membangun ka’bah dan memulai peradaban baru.

Bagaimana Ka’bah yang pada mulanya hanya ditawafi 3 manusia agung itu, kini setiap tahunnya ditawafi sekitar 5 juta manusia dari seluruh pelosok dunia yang melaksanakan ibadah haji dan setiap tahun ke depan akan ditawafi oleh puluhan juta manusia.

Diawali dari sedikit pengikut, kemudian setelahnya ada 42 generasi dari anak cucu Nabi Ibrahim as secara turun-temurun hingga Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam membawa agama Tauhid dan mengubah jazirah itu menjadi pusat dan pemimpin peradaban dunia.

Kisah dan keteladanan Ibrahim a.s memberikan pelajaran yang sangat dalam kepada kita bahwa ujian demi ujian akan melahirkan peradaban. Peradaban ummat manusia yang penuh dengan kemuliaan dan keberkahan. Peradaban yang tidak saja membawa kebahagiaan di dunia yang fana, tapi juga ketentraman dan kebahagiaan di akhirat yang kekal.

Nabi Ibrahim selalu menyelesaikan berbagai ujian – ujian (perintah dan larangan) Allah dengan sempurna/excellent, seperti dalam Al Baqarah ayat 124, Allah berfirman “Wa idzib-talaa ibraaHiima rabbuHuu bikalimaati (“Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Rabb-nya dengan beberapa kalimat [perintah dan larangan].”)… Fa atammaHunna (“kemudian Ibrahim menunaikannya-dengan sempurna/excellent”).
Sebagaimana firman Allah, “wa ibraaHiimal ladzii waffaa (“dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji.”) (Q.S an-Najm: 37) dan firman-Nya: “wa tammat kalimatu rabbika shidqaw wa ‘ad-lan (“Sempurna sudah kalimat Rabb-mu [al-Qur’an] sebagai kalimat yang benar dan adil.”) (QS. Al-An’aam: 115)

Selanjutnya Allah berfirman dalam Al Baqarah 124: “innii jaa-‘iluka linnaasi imaaman” (“Sesungguhnya Aku akan menjadikamu imam bagi seluruh umat manusia.”) Yaitu sebagai balasan atas apa yang telah dikerjakannya. Karena ia telah menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya, maka Allah menjadikannya sebagai panutan dan imam bagi manusia yang selalu diikuti jejaknya.

Nabi Ibrahim lahir di Selatan Irak di zaman seorang raja zhalim bernama Namrud, ayahnya bernama Azar adalah ahli pahat yang sekaligus sebagai pembuat patung-patung yang disembah masyarakat saat itu sebagai tuhan yang diyakini dapat memberi manfaat dan mudarat. Setelah diangkat menjadi Rasul, Ibrahim mengajak masyarakatnya meninggalkan pola keyakinan syirik yang amat berbahaya itu. Ia mengajak mereka dan penguasa saat itu untuk menganut paham Tauhid, yakni mengesakan Allah.

Tanpa ragu sedikitpun, Ibarahim menjelaskan kekeliruan dan kesesatan Bapak dan kaumnya, seperti yang dijelaskan Allah :
“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada Bapaknya; Azar : Mengapa kamu jadikan patung-patung itu tuhan yang disembah? Sesungguhnya aku berpendapat kamu dan kaummu dalam keadaan sesat yang nyata. (QS. Al-‘An’am : 74)”

Sebagai akibat dakwah Tauhid yang disebarkan Nabi Ibrahim, konflikpun tak terhindarkan. Sejak dari penguasa sampai kepada bapaknya ikut murka. Berbagai cara dilakukan untuk menghentikan dakwah tauhid Nabi Ibrahim. Puncaknya ialah sebuah konspirasi jahat yang mereka lancarkan terhadap Ibrahim. Mereka ingin membunuhnya dengan cara membakar Ibrahim dalam sebuah api unggun besar. Allah tidak membiarkan kekasih-Nya dianiaya di jalan-Nya yang lurus. Konspirasi tersebut kandas. Allah memperlihatkan Kebesaran dan keagungan-Nya dengan menyelamatkan Ibrahim dari terbakar dan bahkan merasakan kedinginan dalam api. Hal ini dijelaskan Allah dalam surat Al-Anbiya’, ayat 66 – 70 :

“Ia (Ibrahim) berkata : Apakah kalian menyembah selain Allah yang tidak bisa memberi manfaat sedikitpun pada kalian dan tidak pula dapat memberi mudarat kepada kalian?(66) Celaka kalian dan tuhan yang kalian sembah selain Allah. Apakah kalian tidak berakal? (67) Mereka berkata : Bakar dia dan tolonglah tuhan-tuhan kalian jika kalian ingin melakukannya (68) Kami berkata : Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan atas Ibrahim(9) Mereka hendak melakukan konspirasi padanya (Ibrahim) maka Kami jadikan merekalah orang-orang yang merugi (70) (QS. Al-Anbiya’ : 66 – 70).”

Setelah masyarakat dan penguasa tempat kelahirannya, Irak menolak dakwah Tauhid, maka Allah memerintahkan Ibrahim hijrah ke Palestina dan tinggal di sana beberapa waktu. Nabi Ibrahim sampai usia renta belum juga dikaruniai keturunan (anak), dan ini menjadi kesedihannya tersendiri. Siapa yang akan melanjutkan kehidupannya, kelak? Jika dia tidak memiliki keturunan? Tidak ada generasi baru yang bakal melanjutkan misinya dalam kehidupan.

Doanya, ‘Rabbana habb lana min azwajina wa durriyatina qurrota’ a’yuunin wa jaalna lil muttaqima imama”.  Nabi Ibrahim Alaihissalam ingin anak keturunannya, dan generasi baru yang menjadi ‘penyejuk’ mata, menjadi orang-orang yang ‘muttaaqin’, dan menjadi penghulu orang-orang muttaqin.

Nabi Ibrahim membuktikan dirinya sebagai “Kholilullah” (Kekasih Allah) karena kecintaannya kepada Allah jauh melampaui kecintaannya kepada istri , anak, dan kehidupan duniawi. Beliau tabah dan sabar ketika harus berpisah dengan istri Beliau yaitu Siti Hajar dan putranya yang masih bayi di negeri Mekah karena perintah Allah. Padahal Beliau sudah lama sekali merindukan seorang anak, hingga usia 80 tahun belum juga dikaruniai seorang penerus perjuangan. Di usianya yang tua ini Allah lantas memberikan seorang putra dari istri Beliau yang kedua yaitu Siti Hajar.

Allah perintahkan Hijrah lagi ke sebuah lembah bebatuan yang tidak ada sama sekali air, pepohonan dan sumber kehidupan lainnya. Kawasan tersebut kemudian terkenal dengan sebutan Bakkah atau Mekkah seperti yang kita kenal sekarang. Bakkah (lembah air mata) adalah tempat Nabi Adam AS pernah hidup bersama Siti Hawa istri dan putra putrinya ribuan tahun sebelum kejadian ini berlangsung. Nabi Ibrahim, Hajar dan bayi Ismail menempuh perjalanan dari Syam (Palestina) ke Bakkah saat itu yang menempuh waktu berbulan-bulan lamanya. Kemudian Ibrahim AS diharuskan Allah meninggalkan istri Beliau dan putranya yang masih bayi di lembah yang gersang tanpa penghuni itu. Perpisahan ini sungguh mengharukan namun baik Ibrahim AS maupun Siti Hajar menjalaninya dengan patuh. Saat itulah Beliau berserah diri, pasrah kepada Allah seraya berdoa,

Ya Robbana… Sesungguhnya aku membangun tempat tinggal anak cucuku di sebuah lembah yang tidak memiliki pepohonan, di samping rumah-Mu yang terhormat itu… (QS. Ibrahim : 37)

Karena hijrah ke Mekkah itu adalah petunjuk dan perintah Allah, maka Ibrahim tidak ragu sedikitpun dan bahkan jauh lebih optimis dakwahnya berhasil ketimbang di negeri tempat kelahirannya sendiri, kendati harus melewati perjalanan di atas padang pasir lebih dari 3000 km . Nabi Ibrahim meyakini betul, selama dalam perintah dan petunjuk Allah, tidak ada yang mustahil.

Begitu besar husnuzhan (baik sangka) Ibrahim AS kepada Allah. Beliau menyatakan bahwa Beliau lah yang menempatkan putra kesayangan dan istrinya yang masih lemah karena mengikuti perintah Allah dengan penuh kepatuhan dan tanggung jawab. Beliau yakin dengan penjagaan dan pemeliharaan Allah atas keluarganya karena tempat tersebut adalah rumah Allah yang suci dan diberkahi. Beliau memohon kepada Allah agar anak keturunannya menjadi hamba-hamba Allah yang mendirikan shalat dan senantiasa bersyukur… Dalam doa ini Beliau tidak mendikte Allah tetapi memohon jalan keluar dengan memohon agar Allah membuat hati-hati manusia cenderung kepada mereka … Beliau memohon kepada Allah agar keluarganya diberi rizki Dari buah-buahan… Allah mengabulkan permohonan Nabi Ibrahim AS karena tempat yang ditinggalkan Nabi Ibrahim itu menjadi wilayah yang sangat penting dalam kehidupan manusia.

Doa Nabi Ibrahim AS ini dikabulkan Allah. Dia (Allah) tidak menjadikan tanah gersang di sekitar Ka’bah menjadi subur, namun banyak orang mendatangi tempat tersebut dari hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun hingga saat ini. Ka’bah menjadi ramai dan banyak buah-buahan berdatangan dari berbagai negeri yang dapat Kita saksikan sekarang di Mekah sampai saat ini. Allah menjadikan sekitar wilayah tersebut sebagai lahan-lahan penggembalaan hewan baik domba, kambing, maupun unta karena menjadi tempat kunjungan peribadatan dari berbagai penjuru Dunia… Allah memberikan mata air yang tak pernah kering bagi penduduk Kota Mekah dan para peziarah yang melaksanakan ibadah haji di Kota Suci tersebut. Hingga kini entah sudah berapa miliar liter air keluar dari bumi yang tandus tersebut, namun tidak pernah berhenti mengalir. Para Haji dari berbagai negara di Dunia yang sekarang ini mencapai 3 juta orang pertahunnya selalu membawa air zam-zam ini sebagai oleh-oleh… Hal ini menjadi tanda kekuasaan Allah yang sangat agung dan tidak dapat dipungkiri oleh siapa pun. Perjalanan haji adalah napak tilas perjuangan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya dalam menegakkan kalimah Allah,

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. (Al Hajj: 27-28)”

Di sanalah Ibrahim merancang sebuah masyarakat dan komunitas baru yang bertauhid. Di sanalah Ibrahim membangun sebuah negeri dan peradaban baru yang yang mentauhidkan Tuhan Pencipta dan Pencipta jagad raya. Nabi Ibrahim sadar untuk membangun sebuah negeri yang baru, apalagi tidak ada sumber kehidupan seperti air dan tumbuh-tumbuhan, bukanlah perkara mudah. Bahkan kalau ditinjau dengan akal manusia biasa adalah hal yang mustahil. Bisa saja dalam pandangan manusia biasa bahwa menyebarkan dakwah tauhid di tengah masyarakat yang sudah ada, mungkin lebih mudah.

Di sana pulalah Allah takdirkan lahir sebuah negeri yang menjadi pusat peradaban Tauhid sampai hari kiamat nanti; sebuah negeri yang paling aman di dunia dan rezki yang melimpah dengan berbagai jenis buah-buahan kendati kawasannya dikelilingi bukit-bukit bebatuan. Dari sana pulalah memancar mata air zamzam yang tidak pernah kering kendati diminum dan dimanfaatkan oleh milyaran manusia sepanjang zaman. Sebuah negeri yang penuh berkah sebagai hasil perencanaan Ibrahim yang mengikuti petunjuk dan skenario Allah; Tuhan-Nya dan Tuhan Pencipta alam semesta.

Siti Hajar dan Nabi Ismail yang ketika itu ditinggal oleh Nabi Ibrahim di tengah padang pasir Mekkah, tiba-tiba banyak kedatangan musafir. Ada beberapa musafir yang memutuskan untuk tetap tinggal, namun ada juga yang beranjak pergi. Nabi Ibrahim yang datang dan kemudian menerima wahyu untuk mendirikan Ka’bah di kota tersebut. Ka’bah itu sendiri yang berarti tempat dengan penghormatan dan kedudukan yang tertinggi. Ka’bah yang didirikan oleh Nabi Ibrahim yang terletak tepat di tempat Ka’bah lama yang didirikan Nabi Adam hancur tertimpa dengan banjir bandang pada zaman Nabi Nuh.

Nabi Ibrahim AS disebut sebagai Abul Anbiya (Bapak Semua Nabi) karena dengan izin Allah, anak dan keturunan Beliau banyak yang menjadi Nabi dan Rasul Alaihimus Salaam. Setelah kembali ke Palestina Beliau juga dikaruniai Allah seorang putra lagi yaitu Ishaq AS. Beliau menyatakan hal ini dalam doanya, “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. (Ibrahim: 39)”

Putra Beliau Ishaq AS diperoleh dari istri pertama Siti Sarah menjadi Rasul Allah demikian juga putra Ishaq AS (cucu Nabi Ibrahim AS) bernama Ya’qub AS menjadi seorang Rasul. Nabi Ya’qub AS juga mempunyai anak yang menjadi Rasul yaitu Yusuf AS (cicit Ibrahim AS). Di antara saudara Yusuf AS ada yang bernama Yahuzha dan menjadi cikal bakal dari bangsa yahudi. Di dalam Al Quran mereka (orang-orang yahudi) dipanggil dengan sebutan “Bani Israil” (Anak keturunan Israil). Israel adalah gelar dari Nabi Ya’qub AS untuk mengingatkan mereka agar tidak membanggakan keturunan Yahuzha (saudara Yusuf AS) tetapi keturunan Rasul yang dimuliakan Allah. Dari kalangan Bani Israil ini nanti banyak Nabi-nabi dilahirkan misalnya Nabi Musa, Harun, Daud, Sulaiman, dan Isa as. Para Rasul dan Nabi diutus dari kalangan Bani Israil untuk memperbaharui syariat agama Islam yang diwariskan dari Ibrahim dan Ishaq. Inilah pernyataan Allah,

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Al baqarah 132-133)”

Ketika membangun (merenovasi) Ka’bah, Nabi Ibrahim dan putranya Ismail berdoa bersama memohon keturunan yang saleh. “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”. (Al Baqarah 128-129)

Allah kemudian mengabulkan doa Nabi Ibrahim dan Ismail AS. Dari keturunan Ismail AS ini, Allah berikan orang-orang yang memelihara dan menjaga Rumah Allah Ka’bah dari generasi ke generasi. Dan ribuan tahun kemudian, Allah menurunkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam penutup para Nabi dan Rasul di Bumi Mekah untuk menjadi rahmat bagi seluruh manusia di Akhir Zaman… Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam adalah seorang pendidik yang membacakan ayat-ayat kauniyuah kepada para pengikut Beliau, mengajar Al Kitab (Al-Quran) dan Al Hikmah (As-Sunnah) mensucikan jiwa mereka dengan ibadah dan penghambaan kepada Allah.

Sebelum anak cucunya menyebar dan sebelum masyarakat terbentuk, nabi Ibrahim terlebih dahulu menetapkan visi pembangunan negeri Mekkah. Visi tersebut ialah bagaimana Mekkah menjadi sebuah negeri yang aman. Negeri yang aman itulah visi yang dirancang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sebelum memulai berbagai aktivitas kehidupan di Mekkah. Sebab itu, untuk mewujudkan sebuah negeri yang aman, landasannya tidak mungkin dengan materi atau dimulai dari pembangunan ekonomi dan teknologi canggih. Sebuah negeri yang aman hanya akan terwujud jika dibangun sejak hari-hari pertama berdirinya dengan di atas landasan tauhid.

Tauhid adalah landasan utama membangun sebuah negeri yang aman. Nabi Ibrahim a.s menyadari betul hal ini, setelah mengalami berbagai pengalaman selama puluhan tahun dalam menyampaikan risalah Tauhid di tengah masyarakatnya di selatan Irak dan juga di Palestina. Ibrahim melihat betapa rusak dan kacaunya negeri yang dibangun di atas syahwat kekuasaan dan syahwat dunia lainnya sehingga syahwat-syahwat tersebut menjadi tuhan yang disembah dan diagung-agungkan. Di negeri yang tidak bertauhid, semua neraca menjadi terbalik. Yang hak dianggap batil dan yang batil dianggap hak. Yang baik dianggap buruk dan buruk dianggap baik dan hamba bisa bertingkah laku bagaikan tuhan.  Di negeri yang tidak bertauhid, kesesatan menjadi jalan hidup. Sedangkan petunjuk Allah dijauhi dan diperangi, termasuk Ibrahim sebagai Rasul Allah, tak luput dari konspirasi para pembangkang Allah itu.

Berdasarkan fakta tersebut, Nabi Ibrahim meminta kepada Allah agar Allah berikan ia kesempatan membangun sebuah negeri visioner. Negeri yang aman yang akan menjadi pusat lambang Tauhid hingga akhir zaman. Beliaupun berkata sambil berdoa’ : “Ya Robb (Tuhan Pencipta).. Jadikanlah negeri ini (Mekkah) sebuah negeri yang aman… (Q.S Al Baqarah ayat 126)” . Ibrahim alaihisssalam pertama kali meminta sebuah negeri yang aman, bukan negeri yang makmur ekonomi, atau maju teknologinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *