Imsak Mengajarkan Kita Tentang Nilai Pengendalian Diri

Spread the love

Sepanjang bulan suci Ramadhan, kata imsak banyak terdengar untuk ditanyakan ataupun diobrolkan, imsak bahkan menjadi kata yang sangat berwibawa selama bulan suci tersebut. Waktu imsak dapat dimaknai sebagai beberapa menit sebelum azan shalat Subuh. Pada realitasnya, walaupun telah memasuki waktu imsak, masyarakat masih boleh bersantap sahur hingga menjelang azan subuh. Sebab, jadwal imsak yang diterbitkan oleh pemerintah sebetulnya bukan makna imsak yang hakiki. Biasanya waktu imsak dibuat 10 menit lebih awal daripada waktu subuh. Sedangkan makna imsak yang hakiki, adalah ketika telah memasuki waktu Subuh. Waktu imsak ini dipahami sebagian besar umat muslim Indonesia sebagai pengingat agar menyegerakan makan sahur mereka karena waktu subuh hanya tinggal 10 menit. Jadi, mereka masih boleh makan dan minum saat imsak tiba, tetapi harus sudah berhenti (menahan) makan dan minum saat waktu subuh sudah datang.

Secara harfiah imsak adalah bentuk masdar dari kata kerja bahsa arab amsaka-yumsiku-imsak yang artinya menahan. Seperti dalam kata fa imsakun bi ma’ruf (QS. al-Baqarah ayat 229). Artinya: ”Kemudian tahan atau peliharalah (dia) dengan cara yang baik.” Imsak bisa juga dapat diartikan sebagai ‘pengendalian diri’ , namun dalam dalam perspektif fikih, puasa juga sering didefinisikan sebagai “al-imsak ‘anil akl wa al-syurb wa al-jima.” Artinya, mengendalikan diri dari makan, minum, dan hubungan suami-istri. Tiga hal itulah yang menjadi gatra utama pengendalian diri seseorang ketika sedang berpuasa, sekaligus menjadi kriteria sah atau tidak puasanya.

Banyak orang yang berpuasa hanya merujuk pada tiga hal itu saja, namun tidak sedikit juga seseorang yang mampu melakukan imsak tersebut secara total. Mereka berpuasa bukan hanya semata-mata mencegah diri dari makan, minum, dan hubungan seksual suami-istri, mereka berpuasa dari menggunjing orang, berpuasa untuk mendengar gosip, berpuasa dari marah, berpuasa dari hal yang sia – sia dan lain – lain. Mereka berusaha mengejar seluruh keutamaan puasa, mereka juga ber-imsak dari segala bentuk ego atau takabur, seperti egoisme diri, egoisme kelompok atau golongan.

Dalam hal kehidupan berbangsa dan bernegara, puasa dapat dimanifestasikan sebagai imsak dari segala bentuk keangkuhan, seperti arogansi intelektual, politik, atau kekuasaan. Maka, Ramadhan ini perlu kita jadikan sebagai momentum untuk melakukan ‘imsak’ nasional, yaitu seluruh bangsa menahan diri dalam egoisme dan segala hal yang melahirkan keburukan dans ebaliknya puasa harus melahirkan solidaritas dan kebersamaan nasional, baik yang di tingkat elite hingga masyarakat bawah. Salah satu realisasi imsak tersebut adalah berkata dengan baik, tidak meresahkan masyarakat, jauhi fitnah, dan juga tidak memproduksi hoax. Seperti diisyaratkan dalam sebuah hadis. Di antara tanda-tanda orang beriman adalah berkata baik atau diam.

Kemudian al-imsak (menahan) juga merupakan salah satu arti etimologis dari akal, sehingga disebut orang yang berakal (al-aql) jika orang tersebut mampu menahan hawa nafsunya. Jika hawa nafsunya tertahan oleh jiwa rasionalistasnya, maka ia akan mampu bereksistensi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *