Hidayat Nur Wahid: Tidak Berkomunikasi Dengan Masyarakat dan Menyendiri Itu Berbahaya

Spread the love

IMG_9269

Di ruang kerjanya, Lt. 9, Gedung Nusantara III, Komplek Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, pada tanggal 28 Januari 2016, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menerima delegasi Pengurus Daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Jakarta Selatan. Delegasi itu dipimpin oleh Ketua Umum KAMMI Jakarta Selatan, Abdullah Mas’ud Al Akhyari.

Dalam kesempatan itu Abdullah mengungkapkan bahwa KAMMI Jakarta Selatan merupakan cabang organisasi KAMMI yang baru terbentuk di akhir tahun 2015. Terbentuknya organisasi yang lahir di awal era reformasi itu merupakan kesepakatan Musda KAMMI Jakarta. Dalam musda disepakati bahwa KAMMI dimekarkan. Pemekaran yang terjadi masih di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

Diungkapkan oleh mahasiswa dari LIPIA itu bahwa organisasi yang dipimpinnya telah melakukan komunikasi atau pertemuan dengan pemerintahan Kota Jakarta Selatan, Kodim, dan Polsek.

Sebagai organisasi cabang yang baru, Abdullah mengakui diri dan pengurus lainnya masih minim pengalaman. Untuk itu dirinya datang ke Hidayat Nur Wahid untuk meminta nasehat dan petuah.

Dalam kesempatan itu, Hidayat Nur Wahid menuturkan paling penting dilakukan oleh KAMMI Jakarta Selatan adalah melakukan konsolidasi organisasi. Didorong agar mereka melakukan konsolidasi dengan senior-senior mereka yang pernah aktif di KAMMI. Dengan konsolidasi maka mereka akan tahu apa kendala yang biasa dihadapi dan apa program yang bagus untuk dikembangkan dan diteruskan. “Lakukan konsolidasi internal,” ujar Hidayat Nur Wahid.

Ditegaskan oleh Hidayat Nur Wahid, sebagai calon pemimpin, para mahasiswa yang tergabung dalam KAMMI harus belajar disiplin dan tepat waktu. Sikap malas-malasan harus ditinggalkan. “Disiplin penting agar sukses dan jangan bikin orang kecewa,” ujarnya. Ini penting sebab nama organisasi itu menggunakan kata aksi. “Tidak mungkin menggunakan kata aksi kalau malas-malasan,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, politisi dari PKS itu menyampaikan pesan bahwa kita jangan mudah terjebak pada provokasi, jangan mau dijebak menjadi terroris. Disarankan kepada mereka bahwa kita harus sering-sering menjalankan komunikasi atau silaturrahmi dengan siapa saja. Menurut Hidayat Nur Wahid, bila kita menyendiri atau tidak mau berkomunikasi itu akan sangat bahaya. Disebut orang yang menjadi terroris karena mereka selalu menyendiri dan tidak mau berkomunikasi dengan pihak lain. Kalau di masjid mereka tidak mau berkomunikasi dengan jamaah, kyai, dan rekan-rekannya yang lain. “Orang yang menjadi terroris karena mereka tidak pernah berhubungan dengan masyarakat,” paparnya.

Menurut Hidayat Nur Wahid, Islam bukan radikalisme dan terrorisme. “Islam mampu menjadi rahmat bagi semua, bermanfaat bagi bangsa dan negara,” ujarnya.

Sumber : MPR.go.id

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *