Hidayat: LGBT dan Komunis Bertentangan dengan Pancasila

Spread the love

Hidayat-Nur-Wahid

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menyampaikan, MPR selama ini menyelenggarakan kegiatan sosialisasi Empat Pilar MPR, dengan berbagai elemen masyarakat dan kelompok masyarakat seperti NU, Muhammadiyah Persis, TNI, Polri dan lain Persis.

Menurutnya, sosialisasi Empat Pilar saat ini menjadi begitu penting, di saat banyak sekali fenomena dan kejadian yang sangat kontra dengan Pancasila. Seperti munculnya kembali simbol-simbol komunis, maraknya kelompok LGBT, maraknya kejahatan keji seperti narkoba dan miras.

“Sosialisasi mengajak semua kembali memahami nilai-nilai luhur bangsa dan Pancasila di dalamnya ada nilai-nilai agama,” kata Hidayat, saat membuka sosialisasi Empat Pilar MPR RI kepada sekitar 200 orang pengurus dan anggota Badan Komunikasi Pemuda Remaja Mesjid Indonesia ( BKPRMI ), di Kompleks Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu ( 4/6 )

Hidayat mengingatkan, belum lama ini di Bandung pada 1 Juni 2016, Presiden menetapkan tanggal 1 Juni sebagai tanggal merah dan hari libur nasional sebagai Hari Lahir Pancasila. Momen itu sangat baik, agar Pancasila menjadi lebih kuat pengaruhnya.

Namun, lanjut Hidayat, hari lahir Pancasila jangan sampai hanya menjadi momen seremonial belaka. Konsekuensi kolektif dari penetapan hari Pancasila ini, semua elemen masyarakat terutama pemerintah harus lebih serius mengamalkan Pancasila dalam perilaku sehari-hari.  “Sila-sila Pancasila harus menjadi tolak ukur kepribadian dan karakter bangsa,” ujarnya.

Saat ini banyak sekali hal-hal yang sangat bertolak belakang dengan Pancasila, tapi kurang mendapatkan perhatian serius pemerintah. Seperti komunis dan kaum LGBT yang ada di Indonesia, terutama LGBT yang telah menyatakan eksistensinya. Tapi tidak ada tindakan keras atau hukum kepada mereka, padahal mereka jelas-jelas sangat mengingkari Pancasila.

“BKPRMI sebagai ormas remaja dan remaja Masjid, harus memahami nilai-nilai Pancasila. Apalagi semuanya sekolah di dalam negeri mudah sekali memahami nilai luhur bangsa. Jika tidak, pemuda dan remaja yang memahami Pancasila lalu siapa lagi nanti, lama-lama Pancasila bisa hilang,” tegasnya.

Sumber : Republika/4 Juni 2016/Eko Supriyadi & Teguh Firmansyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *