Dialog Hari Bumi Bersama Ketua Bidang Lingkungan Hidup DPD PKS Jaksel

Spread the love

hidayatullah_burned3
Hidayatullah

Dialog Hari Bumi bersama Ketua Bidang Ekonomi, Keuangan, Industri, Teknologi dan Lingkungan Hidup DPD PKS Jaksel, Hidayatullah (Bang Dayat).

Bagaimana pandangan Bang Dayat sebagai seorang Muslim dengan Hari Bumi ?

Dari dulu umat Islam terdahulu sesungguhnya telah mempunyai keperdulian yang tinggi terhadap alam termasuk di dalamnya yakni bumi, sebagaimana tercermin dari kata-kata Ibnu Taimiyah, “Telah diketahui bahwa dalam makhluk-makhluk ini Allah menunjukkan maksud-maksud yang lain dari melayani manusia, dan lebih besar dari melayani manusia. Dia hanya menjelaskan kepada anak-cucu Adam apa manfaat yang ada padanya dan apa anugrah yang Allah berikan kepada ummat manusia.”

Mari lebih dekat lagi melihat bagaimana praktik Rasulullah SAW beserta para sahabat beliau dalam menerapkan ajaran Islam, khususnya yang berkaitan dengan konservasi alam. Nabi Muhammad SAW berhasil membuat kawasan konservasi yang dikenal dengan hima’ di Madinah dan juga Mekkah. Hima adalah kawasan yang dilindungi untuk kemaslahatan umum dan pengawetan habitat alami.

Bagaimana sejarah atau sirah tentang Hima’ tersebut ?

Nabi Muhammad SAW mengumumkan penerapan hima’ saat penaklukan Mekah melalui sabdanya : “Suci karena kesucian yang diterapkan Allah padanya hingga hari kebangkitan. Belukar pohon-pohonnya tidak boleh ditebang, hewan-hewannya tidak boleh diganggu…dan rerumputan yang baru tumbuh tidak boleh dipotong (Riwayat Muslim).”

Rasulullah juga pernah mencagarkan kawasan sekitar Madinah sebagai hima’ guna melindungi lembah, padang rumput dan tumbuhan yang ada di dalamnya, melalui sabdanya : “Sesungguhnya Ibrahim memaklumkan Mekkah sebagai tempat suci dan sekarang aku memaklumkan Madinah, yang terletak antara dua lava mengalir (lembah), sebagai tempat suci.”

Sahabat Abu Hurairah mengatakan: “Bila aku menemukan rusa di tempat antara dua lava mengalir, aku tidak akan mengganggunya; dan dia (Nabi) juga menetapkan dua belas mil sekeliling Madinah sebagai kawasan terlindung, hima’ (Riwayat Muslim). Nabi juga melarang masyarakat mengolah tanah tersebut karena lahan itu untuk kemaslahatan umum dan kepentingan pelestarian. Dalam sebuah hadistnya Rasulullah bersabda: “Tidak ada hima’ kecuali milik Allah dan Rasulnya (Riwayat Al Bukhari).” Hima’ sebagai upaya konservasi alam dalam ajaran Islam telah berumur lebih dari ribuan tahun. Praktek ini merupakan cara konservasi tertua yang dijumpai di Semenanjung Arabia, bahkan mungkin tertua di dunia.

Nah kemudian, bagaimana Bang Dayat menyikapi pengrusakan lingkungan yang terjadi selama ini?

Agama Islam yang sempurna ini telah melarang segala bentuk pengerusakan terhadap alam sekitar, baik pengerusakan secara langsung maupun tidak langsung. Kaum Muslimin, harus menjadi yang terdepan dalam menjaga dan melestarikan alam sekitar. Oleh karena itu, seyogyanya setiap Muslim memahami landasan-landasan pelestarian lingkungan hidup. Karena pelestarian lingkungan hidup merupakan tanggung jawab semua umat manusia sebagai pemikul amanah untuk menghuni bumi Allâh Azza wa Jalla ini.

Islam sangat memperhatikan kelestarian alam, meskipun dalam perang sekalipun, kaum Muslimin tidak diperbolehkan membakar dan menebangi pohon tanpa alasan dan keperluan yang jelas. Kerusakan alam dan lingkungan hidup yang kita saksikan sekarang ini merupakan akibat dari perbuatan umat manusia. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [ar-Rûm/30:41]

Kita lihat fenomena pengrusakan alam saat ini yang terjadi, ada pembuangan sampah dan limbah sembarangan, pembakaran hutan, penggundulan hutan, pengerukan pasir, reklamasi, dan lain sebagainya terjadi di depan kita tanpa ada sangsi yang tegas dan berat untuk pelaku – pelakunya.

Apa yang Bang Dayat sarankan untuk melestarikan alam dan bumi kita ini ?

Langkah ini seharusnya dilokomotifi oleh pemerintah, misalnya mewajibkan menanam pohon  bagi perseorangan/warga, perusahaan – perusahaan atau organisasi apapun. Al-Qurthubi berkata dalam tafsirnya, “Bercocok tanam termasuk fardhu kifâyah. Penguasa berkewajiban mendesak rakyatnya untuk bercocok tanam dan yang semakna dengan itu, seperti menanam pohon.”

Menebang pohon, menggunduli hutan, membuang limbah ke sungai, membakar areal hutan, reklamasi dan lain-lainnya sudah jelas termasuk perbuatan merusak alam yang bisa mendatangkan bencana bagi umat manusia. Banjir bandang, kabut asap, pemanasan global adalah beberapa diantara akibatnya yang lain.

Apabila manusia tidak segera kembali kepada agama Allah, kepada sunnah Nabi-Nya, maka berkah itu akan berganti menjadi musibah. Hujan yang sejatinya, Allah turunkan untuk membawa keberkahan di muka bumi, namun karena ulah manusia itu sendiri, hujan justru membawa berbagai bencana bagi manusia. Banjir, tanah longsor dan beragam bencana muncul saat musim hujan tiba. Bahkan di tempat-tempat yang biasanya tidak banjir sekarang menjadi langganan banjir. Tidakkah manusia mau menyadarinya? Atau manusia terlalu egois memikirkan diri sendiri tanpa mau menyadari pentingnya menjaga alam sekitar yang bakal kita wariskan kepada generasi mendatang.

Allah memberi manusia tanggung jawab untuk memakmurkan bumi ini, mengatur kehidupan lingkungan hidup yang baik dan tertata. Dan Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan menuntut tanggung jawab itu di akhirat kelak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *