Di depan Tokoh Lintas Agama, HNW Sebut Islam Selalu Membela Bangsa

Spread the love

hnwWakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menceritakan sejarah Islam di depan tokoh agama. Menurut Hidayat, umat Islam tidak diam terhadap masalah bangsa. Hidayat menceritakan itu dalam diskusi bertema ‘Islam di Indonesia’ di Jaya Suprana School of Performing Arts, Mall of Indonesia, Jakarta, Kamis, (23/2/2017) malam. Acara dipandu langsung oleh Jaya Suprana. Acara dihadiri oleh rohaniawan Franz Magnis Suseno dan beberapa tokoh Tionghoa itu.

Hidayat mengatakan, ummat Islam di Indonesia mempunyai peran yang sangat besar. Dicontohkannya Sultan IX Yogjakarta sebagai sultan dari kesultanan Islam telah memberikan tanah-tanah yang ada pada bangsa ini di awal kemerdekaan.  “Gelar dia (Sultan IX Yogyakarta) adalah Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sanga ing Ngayogyakarta Hadiningrat,” ujar Hidayat dalam keterangan tertulisnya, Jumat (24/2/2017).

Apa yang dilakukan Sultan IX itu juga dilakukan oleh Kesultanan Riau. Sultan Syarif Kasim memberikan tanah-tanahnya untuk Indonesia ketika negara ini berdiri. Sultan Syarif Kasim bahkan memberi wasiat agar keluarganya tidak menuntut soal tanah-tanah yang sudah diberikan kepada Indonesia. Kesultanan Islam yang memberi kontribusi kepada Indonesia juga disumbangkan oleh Kesultanan Pontianak. Pada masa kesultanan di bawah Sultan Hamid II, sang sultan merancang lambang negara Garuda Pancasila.  “Hal demikian menunjukkan menyatunya Islam dengan Indonesia,” kata Hidayat.

Lebih lanjut dikatakan, dalam masa-masa persiapan Indonesia merdeka, banyak tokoh-tokoh Islam yang menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK). Dalam masa itu, tokoh-tokoh Islam yang berlatar belakang dari NU, Muhammadiyah, Aceh, dan lainnya, rela menghilangkan tujuh kata dari Piagam Jakarta.  “Islam terus berdialog hingga mencari titik tengah untuk tetap menjadi Indonesia,” tegasnya.

Pada masa mempertahankan Indonesia merdeka, peran umat Islam tetap terdepan. Ia menceritakan bagaimana kisah peristiwa pertempuran 10 November 1945 terjadi. Pertempuran mempertahankan Kota Surabaya itu bisa berlangsung secara heroik sebab ada peran dari ulama KH Hasyim Asy’ari. Pendiri NU itu mengeluarkan ‘Fatwa Jihad’ yang berisi mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam wajib hukumnya.  “Banyak tokoh Islam yang cinta Indonesia sehingga terjadi peristiwa heroik itu,” kata pria yang pernah nyantri di Gontor ini. Ketika terjadi pada masa darurat, umat Islam yang berada di Sumatera pun mendirikan pemerintahan sementara.

Dari beberapa peristiwa di atas, Hidayat menunjukkan umat dan tokoh Islam peduli pada masalah bangsa. Mereka tidak tinggal diam ketika bangsa ini menghadapi masalah. “Coba bayangkan kalau umat Islam diam atau tidak melakukan apa-apa. Meski memiliki peran besar namun umat Islam tidak mau menang sendiri,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Hidayat mengatakan, agama Islam masuk ke Indonesia secara damai. Islam yang masuk ke Indonesia adalah Islam yang moderat dan toleran.  Hal ini bisa terjadi karena penyebar Islam yang datang ke Indonesia datang dari berbagai wilayah. Sebagai agama yang toleran maka agama ini bisa berkembang tanpa peperangan. “Islam berkembang dengan dakwah. Agama Islam tidak anti budaya lokal,” tutur dia.

Dengan demikian Islam mampu beradaptasi dengan nilai-nilai lokal. Disebutnya, para wali menciptakan wayang sebagai alat untuk menyebarkan dakwah.  “Masjid-masjid di Indonesia pun banyak yang bercorak budaya lokal bukan budaya dari Timur Tengah,” ucapnya.  Sebagai agama mayoritas maka agama ini dipeluk oleh Presiden, Wakil Presiden, Panglima TNI, Kapolri, Menkopolkam, dan lain sebagainya. Organisasi terbesar, NU dan Muhammadiyah, juga organisasi yang bernafas Islam.  “Dengan demikian tak benar kalau Islam disebut sebagai agama radikal,” katanya.

Diakuinya, memang ada pihak-pihak tertentu yang terjebak pada perilaku radikal dan fundamental. Namun perilaku itu justru merugikan umat Islam.  “Kita yang menjadi korban dari perilaku itu,” ucap politisi PKS ini.

 

Sumber : DetikCom/24 Februari 2017/Niken Widya Yunita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *