Blusukan, Kader PKS Pejaten Barat Bagikan Ta’jil dari Pintu ke Pintu

Spread the love

pejaten-barat

Di hari kesebelas puasa Ramadhan, Kamis (16/6), kader – kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS)  Pejaten Barat baik laki – laki maupun perempuan bergerak blusukan ke gang – gang kampung di wilayah kelurahan Pejaten Barat kecamatan Pasar Minggu.

Dalam blusukannya, para kader PKS ini berkeliling kampung sambil membagikan makanan ta’jil buka puasa dari pintu ke pintu rumah warga. Para kader PKS disambut ramai antusias oleh warga yang dikunjungi. Program bagi ta’jil dari pintu ke pintu ini merupakan salah satu agenda rutin Ramadhan PKS Pejaten Barat dalam rangka untuk mempererat ukhuwah dengan warga. “Baru PKS yang bagiin makanan buka puasa kaya gini di sini, moga berkah selalu buat PKS,” ujar salah satu warga.

Sore itu kader – kader PKS ranting Pejaten Barat terus menyusuri pintu – pintu rumah warga. Seperti seorang sales penjual barang, mereka mengetuk setiap rumah dan memberikan makanan ta’jil untuk berbuka puasa. Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk saling berbagi.  Kegiatan ini harapannya dapat mempererat hubungan silaturahim antara PKS dan warga masyarakat. Pada hari itu, kader – kader PKS membagikan sebanyak ratusan paket makanan ta’jil.

Dengan blusukan sambil membagikan ta’jil seperti ini,  kita bisa mendengarkan suara rakyat secara langsung.  Kita akan mengetahui bahwa kondisi masyarakat sedang suram, akibat harga – harga kebutuhan pokok yang naik  selama bulan puasa dan jelang lebaran, ditambah pemutusan hubungan kerja juga sedang marak.

Belum lama ini, pemerintah berencana akan menaikan tarif dasar listrik lagi. Informasi ini akan bisa menjadi derita baru bagi masyarakat yang mayoritasnya berada di segmen golongan bawah. Di saat daya beli masyarakat turun, pemenuhan kebutuhan dasar berupa makanan harusnya menjadi prioritas utama pemerintah, bukan lagi dengan mencabut semua subsidi yang ada.

Oleh karena itu, kami kader PKS mengajak pemerintah dan jajarannya untuk kembali melakukan blusukan  di bulan ramadhan ini, sehingga pemerintah betul – betul mempunyai nalar dan empati yang tinggi sebelum mengambil sebuah kebijakan. Terlebih lagi dampak penurunan daya beli, kini sudah sangat terasa dampaknya terhadap pelambatan sektor riil yang mengakibatkan produksi anjlok dan melonjaknya pengangguran. Bulan Ramadhan adalah bulan empati dan peduli, seharusnya pemerintah sudah mulai berempati dan peduli dengan rakyat bukan dengan konglomerat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *