Bisakah Kita Tidak Hanya Menjadi Pengguna dan Penonton Pertarungan Produsen Games Dunia?

Spread the love
Hidayatullah
Hidayatullah, Ketua Bidang Ekonomi, Keuangan, Industri, Teknologi dan Lingkungan Hidup DPD PKS Jaksel

Dialog ringan tentang demam “Pokemon Go” bersama Ketua Bidang Ekonomi, Keuangan, Industri, Teknologi dan Lingkungan Hidup DPD PKS Jaksel, Hidayatullah (Bang Dayat).

Reporter : Apa yang Anda lihat, dari munculnya games “Pokemon Go” ini?

Bang Dayat : Ini sinyal pertarungan antar perusahaan games memasuki babak baru, setelah Nintendo mengeluarkan rilis games baru yakni pokemon go. Ketika mereka mengeluarkan produk – produk baru mereka, tentu mereka berniat untuk merebut pangsa pasar dari saingannya, dan sekaligus merebut waktu dan ruang kita juga.

Nintendo pernah menarik perhatian ketika mengeluarkan console baru bernama Wii yang memiliki controller yang berbentuk remote control  yang dipakai untuk mendeteksi gerakan pemakai. Padahal saat itu, nintendo sebagai pemain terkecil dari ketiga raksasa games, banyak pengamat melihat langkah tersebut sebagai strategi yang jitu dari Nintendo. Karena Nintendo bisa keluar dari ceruk persaingan pasar produsen games Sony dan Microsoft. Sementara Sony dan Microsoft masih berkutat pada kemampuan tampilan grafis dan kapasitas penyimpanan. Dengan fokus pada desain controller, Nintendo juga ingin membuktikan bahwa dirinya mampu memahami keinginan konsumen lebih baik dibanding dua kompetitornya itu. Dengan strateginya tersebut, Nintendo bisa menjangkau konsumen yang selama ini alergi dengan video games karena kesulitan mengendalikan gerakan dalam permainan. Setelah aksi memukau Nintendo tersebut, kemudian Sony merilis PlayStation versi terbaru, sementara Microsoft  juga mengeluarkan Xbox terbaru.

Setelah Nintendo sudah membuat heboh dengan mengeluarkan aplikasi android “Pokemon Go”, tidak lama lagi kita mungkin akan lihat aksi apa yang akan dilakukan oleh dua kompetitornya tersebut untuk menyaingi produk Nintendo.

Reporter : Strategi – strategi apa saja yang dipakai mereka untuk bersaing dengan kompetitornya?  

Bang Dayat : Kita melihat bahwa ketiga perusahaan tersebut mengambil strategi yang berbeda. Microsoft memanfaatkan dominasi sistem operasinya dalam meningkatkan penjualan Xbox, sementara Sony mempertaruhkan keberhasilan standard Blu-Ray yang didukungnya untuk pemutar DVD generasi terbaru, sementara Nintendo berfokus pada kemudahan permainan untuk menjangkau segmen pasar yang selama ini jarang tergarap. Nintendo sepertinya mengambil jarak agak jauh dari PlayStation dan Xbox. Tentu menarik untuk menebak-nebak strategi siapa yang akan membuahkan hasil terbaik.

Selama perjalanan, Nintendo memang sering mencuri perhatian. Antrian untuk mencoba Wii saat itu membludak, para pengunjung ingin mencoba controller baru Nintendo tersebut. Secara sepintas, kelihatannya strategi Nintendo seperti itu akan membuahkan hasil signifikan. Tapi kompetitor juga kadang tidak tinggal diam, mereka mengamati, meniru dan memodifikasi strategi kompetitormya. Betul saja, begitu mengetahui strategi Nintendo tersebut, Sony kemudian segera mengumumkan mengeluarkan controller yang bisa mendeteksi gerakan pemakainya juga.

Cukup menarik menanti siapa yang akan menjadi pemenang dalam pertarungan games tersebut. Stratagi Nintendo untuk menghindari persaingan memang sangat menarik dan cerdik. Namun bila Nintendo tidak bisa menjadikan consumer insights sebagai bagian dari kompetensi inti (core competence) perusahaan, maka kemampuannya tersebut akan dengan mudah ditiru oleh Sony dan Microsoft.

Reporter : Bagaimana strategi yang dipakai Nintendo dengan “Pokemon Go” nya?

Bang Dayat : Sejatinya Nintendo sendiri sudah kesulitan mengejar Sony dan Microsoft dalam hal teknologi. Namun kini Nintendo mengeluarkan Pokemon Go, games yang kini sedang menjadi fenomenal. Kita bisa mengunduhnya gratis ke smartphone kita. Ketika kita mendaftar melalui aplikasi android google play store, maka kita mengizinkan Niantic Labs (pembuat aplikasi pokemon go) untuk menggunakan lokasi kita dan membaginya melalui aplikasi tersebut, sangat interaktif.

Strategi ini sepertinya berhasil,  game pokemon go ini telah menambah nilai nintendo sebesar lebih dari US$7milyar (Rp92 triliun) lewat kenaikan harga saham sejak pertama kali dilepas.

Sony dan Microsoft tentu tidak akan tinggal diam mengetahui hal ini. Apa pun, ketiga pemain tersebut pasti menjanjikan pertarungan yang lebih seru dari games yang beberapa waktu ke depan. Kita di Indonesia, karena tidak bisa berpartisipasi dalam permainan tersebut, setidaknya akan menjadi pasar empuk bagi mereka atau minimal menjadi penonton pertarungan tersebut di negeri sendiri.

Reporter : Bagaimana nasib Indonesia di tengah persaingan pasar games dunia? 

Bang Dayat : Indonesia dengan jumlah penduduk serta penetrasi smartphone yang terus meningkat, akan menjadi pasar menarik bagi perusahaan pengembangan games dunia. Nilai pasar mobile game di dunia pada tahun 2015 menyentuh Rp 350 triliun, lima tahun lagi nilainya diprediksi akan menjadi Rp 700 triliun.

Oleh karenanya, harusnya pemerintah lewat kementrian kreatif peduli dengan hal ini. Pemerintah harus bisa menciptakan triger – triger untuk memajukan industri game di Indonesia. Pemerintah sebagai pemilik resource sdm, sda dan juga dana harusnya bisa mengubah mindset bahwa orang Indonesia juga bisa suskes membuat game-nya sendiri. Kita sebenarnya bisa bisa berpartisipasi dalam industri game dunia, kalau kita mau.

Reporter : Seberapa siap Indonesia dalam menghadapi persaingan games dunia ?

Bang Dayat : Beberapa hasil kreatifitas pembuatan games yang dibuat oleh anak – anak bangsa dan ternyata juga bisa sukses mendunia. Ada DreadOut yang dibuat oleh studio games di Bandung, ada juga games Sushi Chain dan Hachiko HD Lite, buatan Orang Indonesia bernama Anton bersaudara. Kemudian ada juga Save the Hamster, Faunia racher, dan juga Angkot The Game. Developer games dari Indoensia yang sudah mendunai juga sudah banyak seperti Maximize Games, Kidalang, Alegrium, Menara games, Own Games, Tinker Games, Toge Production, Touchten Games dan lain sebagainya. Itu semua merupakan modal bahwa mampu untuk eksis di belantara games dunia, hanya saja pemerintah mau memfasilitasinya atau tidak.

Reporter : Apa yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia ?

Bang Dayat : Terpikir kah oleh pemerintah untuk mengumpulkan dan mendorong para developer games tersebut untuk bisa memberikan pengalaman budaya dan sensitifitas lokal pada games yang diproduksinya. Ini tentu sangatlah tepat mengingat budaya Indonesia memiliki potensi untuk diolah dan menjadikan sebuah karya memiliki nilai eksotis tinggi. Dengan adanya unsur budaya dalam game, kita dapat lebih memupuk rasa cinta terhadap tanah air Indonesia.

Kita bisa mendekatkan games dengan budaya lokal ini melalui teknologi seperti augmented reality, seperti yang dipakai di pokemon go. Sebagai mana ada beberapa games yang mampu memanfaatkan buadaya lokal seperti Virtual Reality Museum Majapahit dan Nusantara Online  yang sudah mampu membranding Indonesia di mata internasional. Zaman boleh berubah tetapi culture harusnya tidak boleh hilang atau dihilangkan, kita membantu membuat nilai-nilai dari kebudayaan secara transenden dan dapat menembus jaman. Indonesia harus dapat maju dengan industri kreatifnya, Indonesia punya banyak sekali culture dan suku bangsa yang beraneka ragam, yang mana itu bisa diolah di era ekonomi kreatif sekarang ini.

Reporter : Berarti kita tidak boleh menyerah dan hanya menjadi penonton di negeri sendiri?

Bang Dayat : Kita tidak boleh menyerah, kita harus melewati tantangan demi tantangan, tanpa kehilangan  dan menghilangkan budaya asli Bangsa ini. Desainer kita, memiliki potensi untuk itu, desainer game Indonesia masih tidak kalah dengan desainer-desainer game luar negeri lainnya.

Terakhir, kami semua berharap kedepannya akan lebih banyak lagi bemunculan para ahli – ahli games lokal yang menggemari desain, khususnya untuk game dengan tema Kebudayaan Indonesia dan umumnya untuk Popularitas kemajuan Teknologi Indonesia di mata Dunia. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *