Bangun Kesadaran Bahaya Propaganda LGBT, PKS Pasar Minggu Undang Para Pakar

Spread the love

02ad916c-9f9b-47a9-a888-92f5f1128e49

Masifnya pemberitaan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di berbagai media membuat pengurus Rumah Keluarga Indonesia (RKI) Pejaten Barat merasa perlu membuat sebuah wadah untuk forum berbagi ilmu tentang apa itu LGBT. Untuk itulah kemudian pengurus RKI Pejaten Barat bekerjasama dengan beberapa pihak memutuskan mengadakan Talkshow Parenting.

Ririn Hadiati selaku ketua panitia menyatakan bahwa kelompok LGBT sat ini sangat gencar mengkamapanyekan pengakuan dan keyakinan mereka lewat berbagai media dan juga forum. Talkshow parenting yang mengusung tema “Tentukan Sikap Kita hadapi Penyimpangan Seksual (LGBT)” ini, harapannya dapat mengimbangi informasi yang masyarakat terima tentang apa itu LGBT. Ririn juga menjelaskan bahwa, jika pelaku LGBT “kreatif” dalam menyebarkan pemahamannya maka masyarakat harus lebih disadarkan lagi terhadap bahaya propaganda dan penyimpangan LGBT.

Acara yang berlangsung di Graha SMK 57 Jakarta Selatan ini dimulai sejak pukul 08.00 sampai 12.00 WIB. Talkshow kali ini mendatangkan keynote speaker yaitu Wakil Ketua MPR RI DR. H. Hidayat Nur Wahid, M.A.  Dalam pengantarnya, beliau mengatakan bahwa dari segi hukum LGBT adalah pelanggaran hukum sehingga pelakunya tidak bisa meminta keadilan dari lembaga hukum di Indonesia. Beliau juga menambahkan bahwa penyimpangan dan penyakit LGBT ini jika dibiarkan meluas maka akan bisa menghancurkan negara.

Semua agama menjelaskan bahwa LGBT adalah sesuatu yang dilarang dalam agama, sila pertama Pancasila menjadi dasar bahwa semua agama melarang penyimpangan ini. Dalam Islam sendiri, LGBT adalah sebuah penyimpangan dan penyakit, oleh karenanya negara harus mengambil sikap terhadap penyimpangan ini. HNW sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan. Beliau menegaskan bahwa Presiden Joko Widodo harus mengambil sikap tegas dengan membuat Undang-Undang terkait LGBT karena penyimpangan tersebut sudah sangat dekat dengan masyarakat, bukan hanya di kota besar tetapi juga di desa, bukan hanya mengenai orang dewasa namun juga anak-anak. Sebagai pesan terakhirnya dalam penjelasan panjangnya, HNW meminta kepada setiap peserta yang hadir untuk bersama menjaga keluarganya, karena seluruh pihak memiliki peran dalam mencegah penyimpangan perilaku ini, “Kuu Anfusakum Wa Ahlikum Naaro” jagalah keluargamu dari siksa api neraka.

Sebelum sesi pemaparan materi dari para nara sumber, dipanjatkanlah doa yang dipandu oleh Ustadz Igo Ilham. Narasumber yang didatangkan oleh panitian berasal dari berbagai lintas keilmuan mulai dari ilmu jiwa (DR.dr. Fidiansyah,Sp.Kj) , ilmu psikologi (DR. Muhammad Iqbal,Ph,D), komunitas (Zunaerah Pangaribuan,S.H) dan juga dari sisi syariah (Ustadzah Shinta Santi,Lc.).

Acara berlangsung cukup menegangkan karena beberapa kali peserta tersentak dan kaget dengan penemuan-penemuan yang terjadi di lapangan. Seperti penjelasan dr Fidiansyah, “LGBT adalah masalah kejiwaan”. Dirinya menyebut bahwa saat ini terjadi dikotomi antara pengetahuan dan spiritual. Padahal kesehatan selama ini diterjemahkan dalam UU.KES. No 36 Tahun 2009 definisi kesehatan adalah “Keadaan Sehat Baik Secara Fisik, Mental, Spiritual Maupun Sosial Yang Memungkinkan Setiap Orang Untuk Hidup Produktif Secara Sosial dan Ekonomis”. Berbeda dengan penjelasan kesehatan menurut WHO yang tidak menitik beratkan pada ketiga aspek tersebut. Itulah yang membuat perbedaan sikap antara WHO dan Ilmu Jiwa dalam menanggapi kasus LGBT ini.

Setelah penjelasan dr. Fidiansyah, Moderator meminta Psikolog dari rumah konseling Pak Iqbal memberikan penjelasannya tentang LGBT, Pak Iqbal menjelaskan bahwa LGBT sudah sangat memprihatinkan karena jumlahnya yang semakin banyak. Ditambah lagi dengan banyaknya pihak dari luar negeri (asing) yang memberikan dukungan berupa biaya terhadap penyakit ini. LGBT adalah gangguan perilaku yang muncul akibat adanya gangguan pada kognitif dan afektif. Pak Iqbal juga menyampaikan bahwa LGBT bisa disembuhkan dengan melakukan terapi, beliau sudah memprakarsai dibangunnya konseling bernama Rumah Konseling bagi penderita LGBT yang ingin sembuh.

Setelah dari sisi kejiwaan dan psikologis, maka Ustadzah Shinta Santi ikut bicara dari segi keilmuan syariah, beliau menegaskan berulang kali tentang hadist yang berkaitan dengan LGBT. Beliau katakan berulang kali untuk menegaskan bahwa betapa penyakit LGBT adalah penyakit yang sangat berbahaya, beliau menjelaskan pandangan Islam terkait LGBT mulai dari bentuk penyimpangannya, hukum terhadap pelakunya dan ciri-ciri pelaku LGBT.  Penjelasan Ustadzah Shinta membuat telinga hadirin benar-benar fokus mengikuti penjelasannya hingga akhir.

Terakhir ada Ibu Zunaerah Pangaribuan untuk menjelaskan tentang upayanya membantu penderita LGBT yang ingin sembuh, beliau menyebut pelaku penyimpangan dengan sebutan SSA. Beliau dan timnya dalam Peduli Sahabat membantu para SSA yang ingin sembuh dan kembali hidup normal. Penjelasan yang tenang dan santai membuat peserta menyimak dengan runut dan melahap semua penjelasan dari berbagai narasumber.

Talkshow Parenting ini diadakan oleh RKI dengan mengundang berbagai instansi pendidikan mulai dari guru Sekolah Dasar sampai tingkat Menengah di berbagai wilayah di Pasar Minggu. Namun tidak hanya peserta dari Pasar Minggu saja yang hadir karena ada beberapa peserta yang berasal dari wilayah di luar Pasar Minggu yaitu Tangerang, Serpong dan Depok. Diantaranya terdapat mahasiswa dari STIDI Al Hikmah mereka memberikan testimoni terhadap acara ini, menurut mereka acara yang diadakan bagus karena mengundang pembicara-pembicara yang kompeten di bidangnya, berharap kegiatan serupa bisa diadakan kembali karena banyak masyarakat yang belum mengetahui LGBT secara lebih dalam, tentang cara mengatasinya, cara melindungi pengaruh LGBT dalam keluarga dan masyarakat. “Dari kegiatan ini saya juga merasa termotivasi untuk mengajak semua masyarakat untuk lebih sadar terhadap pengaruh LGBT dalam lingkup sosial dan keluarga”. Ungkap Hani salah satu mahasiswi STIDI Al Hikmah.

Acara ini dihadiri oleh 95 orang peserta dari berbagai wilayah, ini menandakan bahwa masih banyak masyarakat yang masih peduli dengan bahaya propaganda LGBT. Antusiasnya peserta, bisa dijadikan satu tanda  bahwa orangtua dan juga pendidik di wilayah Pasar Minggu masih terbangun kesadarannya untuk ikut menolak propaganda LGBT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *