Home » Taujih » Penuhilah Janjimu Itu, Bahagianya Akan Dibawa Sampai Mati

Penuhilah Janjimu Itu, Bahagianya Akan Dibawa Sampai Mati

Ustadz Al Mansur Hidayatullah, Lc – Ketua DPD PKS Jaksel

Saudaraku yang dirahmati Allah,

Pada diri kita ada begitu banyak kewajiban untuk memenuhi janji kita kepada Allah.

Mendirikan shalat dan menunaikan zakat, apakah engkau telah memenuhi janji tersebut?

Menjaga pandangan mata, memelihara kemaluan, dan tidak menampakan perhiasan berlebihan, apakah engkau telah memenuhi janji tersebut?

Dimana kesetian kalian kepada Allah swt? Wahai kalbu yang lalai, sadarlah sebelum hilang kesempatan itu. Masih banyak janji-Nya yang belum kita kejar. Mari kita mengejar sesuatu yang pasti yang dijanjikan oleh yang paling tahu tentang seluk beluk manusia dan dunia seisinya, Dialah Allah swt.

Seyogyanya, semangat dan antusias kita lebih besar apabila yang menjanjikan sesuatu adalah Allah swt. Memang, janji-Nya terkadang tidak tampak alias tidak terlihat. Namun yakinlah bahwa janjinya adalah pasti dan tak mungkin diingkari.

Dahulu ada seorang shahabat Nabi bernama Anas bin Nadhr. Dia amat menyesal karena tidak ikut perang Badar bersama Rasulullah. Dia berjanji jika Allah swt memperlihatkan kepadanya medan pertempuran bersama Rasulullah saw, niscaya Allah akan melihat pengorbanan yang dilakukannya. Dan sahabat Anas bin Nadhr akhirnya membuktikan janjinya tersebut di medan perang Uhud.

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).” [Q.S. Al-Ahzab: 23]

Dari ayat di atas kita bisa mengetahui bahwa salah satu ciri orang mukmin (orang yang beriman) adalah mereka yang berusaha untuk menepati janjinya. Dari ayat 23 Al Qur’an surat Al Ahzab tersebut, kita dapatkan pelajaran bahwa tidak semua orang beriman termasuk dalam kelompok terpilih, yaitu orang yang “benar – benar menepati janjinya kepada Allah.” Itulah kondisi Ihsan, kesempurnaan perilaku yang disebutkan Nabi Muhammad saw dalam hadits.

Demikianlah perintah Allah swt kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa menjaga, memelihara, dan melaksanakan janjinya. Hal ini mencakup janji seorang hamba kepada Allah swt, janji hamba dengan hamba, dan janji atas dirinya sendiri seperti nadzar. Masuk pula dalam hal ini apa yang telah dijadikan sebagai persyaratan dalam akad pernikahan, akad jual beli, perdamaian, dan lain – lain.

Janji memang ringan diucapkan namun berat untuk ditunaikan. Betapa banyak orang yang mudah mengobral janji tetapi tidak pernah mau menunaikannya. Betapa banyak orang yang dengan entengnya berjanji akan melakukan ini dan itu namun tak pernah menepatinya. Dan betapa banyak pula orang yang berhutang namun menyelisihi janjinya.

Manusia dalam hidup ini pasti ada keterikatan dan pergaulan dengan orang lain. Maka setiap kali seorang itu mulia dalam hubungannya dengan manusia dan terpercaya dalam pergaulannya bersama mereka, maka akan menjadi tinggi kedudukannya dan akan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Sementara seseorang tidak akan bisa meraih predikat orang yang baik dan mulia pergaulannya, kecuali jika ia menghiasi dirinya dengan akhlak-akhlak yang terpuji. Dan di antara akhlak terpuji yang terdepan adalah menepati janji.

Nabi Muhammad saw, sebelum diutus oleh Allah, beliau telah dijuluki sebagai seorang yang jujur lagi terpercaya (al amin). Maka tatkala beliau diangkat menjadi rasul, perangai yang mulia ini semakin sempurna pada dirinya. Sehingga orang-orang kafir pun mengaguminya, terlebih mereka yang mengikuti dan beriman kepadanya.

Menepati janji adalah bagian dari iman. Barangsiapa yang tidak menjaga perjanjiannya maka tidak ada agama baginya. Maka seperti itu pula ingkar janji, termasuk tanda kemunafikan.

“Tanda-tanda munafik ada tiga; apabila berbicara dusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila dipercaya khianat.” (HR. Muslim)

Siapapun orangnya yang masih sehat fitrahnya tidak akan suka kepada orang yang ingkar janji. Karenanya, dia akan dijauhi di tengah-tengah masyarakat dan tidak ada nilainya di mata mereka. Sedemikian tingginya Islam menjunjung adab dan akhlak dalam pergaulan. Apabila kita membaca sejarah keemasan Islam, kita akan mengetahui bahwa para pendahulu Islam sangat memegang janjinya, bahkan untuk hal yang paling remeh sekalipun.

Dan dari sejarah pun kita akan mengetahui bahwa tidak pernah ada pengkhianat yang hidupnya tenteram, para pengkhianat perjanjian akan berakhir dengan kemalangan. Tentunya masih ingat tentang nasib tiga kelompok Yahudi Madinah, yaitu Bani Quraizhah, Bani An-Nadhir, dan Bani Qainuqa’ yang berkhianat setelah mengikat tali perjanjian dengan Rasulullah saw, yang akhirnya berujung dengan kehinaan. Di antara mereka ada yang dibunuh, diusir, dan ditawan. Begitulah kalau watak tercela sudah sangat melekat pada diri mereka karena tidak adanya keimanan yang benar.

Menepati dan memenuhi janji itu penting. Jangan menjadi orang yang mudah mengubah atau melanggar janji. Kebiasaan mengubah dan ingkar janji akan menurunkan harga diri dan integritas diri. Ketahuilah, bisa memenuhi janji itu bahagianya sampai ke hati dan terbawa sampai mati.

*) Taujih disampaikan di hadapan sebagian kader PKS Jaksel, Jumat (10/11)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>