Home » Taujih » Mudik “Kampung Akhirat”

Mudik “Kampung Akhirat”

ustadz-salman-al-farisi-2Oleh : Ustadz Salman Alfarisy

Tradisi mudik ketika memasuki bulan Syawal di Indonesia merupakan salah satu kebaikan yang perlu dilestarikan. Keluarga yang masih memiliki orang tua atau sanak saudara di tanah lahir tentu akan bela-belain pulang kampung. “Setahun sekali” , kata mereka.

Semua sibuk dengan proyek tahunan ini. Pemerintah melalui kementerian perhubungan sibuk dengan persiapan jalur mudik. Polisi siap dengan pengaturan lalu lintas dan keamanan. Media berjibaku dengan update info mudiknya. Tentu, yang berangkat mudik juga bersiap dengan oleh-oleh untuk sanak keluarga. Untuk yang terakhir dapat dilihat fenomenanya ketika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Masjid yang dihari-hari pertama Ramadhan ramai, telah berpindah ke mall-mall atau pusat perbelanjaan. Bukan hanya bagi yang mudik, bagi warga yang lebaran di kota pun sibuk mempersiapkan lebaran.

Kisah singkat mudik di bawah ini patut direnungkan. Ketika penulis berangkat mudik, terdengar informasi bahwa anak kawan dari Aceh usia 4,5 tahun telah “mudik duluan ke kampung akhirat”. Tidak ada tanda-tanda sakit parah yang dialaminya. Di malam itu, ia sedang tidur sebagaimana biasa ia tidur. Dan itu adalah tidur terakhirnya di dunia. Tidur yang tidak pernah bangun. Tidur yang tidak pernah bisa membuka kelopak mata setelahnya. Tidur yang ruhnya tidak kembali lagi ke jasadnya.

Ayahnya yang sedang berada di luar kota pun dibuat kaget dengan berita ini. Perjalanan jauh selama 5 jam ditempuhnya. Seakan-akan tidak percaya dengan informasi tersebut. Apalah daya, yang namanya ajal bukan wewenang manusia. Rahasia Allah. Tidak menunggu sakit. Tidak menunggu tua. Tidak menunggu taubat. Kematian pasti akan datang jika tiba masanya.

Selain itu, ada juga kisah keluarga yang ditinggal wafat keluarga ketika mudik. Waktunya pun pas hari raya. Sehingga jama’ah masjid setelah melaksanakan shalat idul fitri, mereka berduyun-duyun ke pemakaman untuk mengantarkan jenazah yang telah lebih dahulu mudik ke kampung akhirat.

Peristiwa mudik ke kampung halaman tidak hanya dipahami sekedar silaturahmi keluarga yang masih hidup tapi juga harus bisa memberikan pelajaran bahwa kita semua yang hidup juga akan ‘mudik’ ke kampung halaman pertama yang pernah dihuni oleh Nabi Adam, manusia pertama, di surga. Adam diturunkan Allah dari surga ke muka bumi karena kesalahan yang telah diakuinya dan bertaubat serta diterima taubatnya.

Kini, kita sedang menapaki jalan menuju kampung halaman yang pernah dihuni oleh bapak moyang kita. Semoga kisah mudik ini dapat memberikan nasihat dan memudahkan perjalanan dalam menuju kampung akhirat.

Salman Alfarisy
@Ponorogo dan Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>