Home » Kegiatan PKS » Ketua DPD PKS Jaksel Nonton “Ayat – Ayat Cinta 2”, Ini Ulasannya Untuk Anak Jaman Now
Ketua DPD PKS Jaksel Nonton “Ayat – Ayat Cinta 2”, Ini Ulasannya Untuk Anak Jaman Now

Ketua DPD PKS Jaksel Nonton “Ayat – Ayat Cinta 2”, Ini Ulasannya Untuk Anak Jaman Now

img_20180105_135312-resized-320Ketua DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jakarta Selatan ternyata bukan hanya sekadar menyukai film, tapi juga pengamat. Buktinya, Ustadz yang sering disapa dengan panggilan Al Mansur itupun fasih mengulas film ‘Ayat – Ayat Cinta 2 (AAC2)’ yang bercerita tentang seorang muslim Indonesia, Fahri yang berusaha mengamalkan ‘syariat Islam’ untuk lingkungan tetangga – tetangganya, yakni di Edinburgh, Skotlandia.

Al Mansur menyaksikan Ayat – Ayat Cinta 2 di XXI Pejaten Village pada Ahad (7/1) bersama keluarga dan pengurus PKS Jaksel lainnya. Menurut alumni Al Azhar Mesir ini, film AAC2 memukau dari sisi cerita. Sebab, muslim yang banyak dicitrakan sebagai teroris, bodoh, tidak ramah, esklusif, kurang bisa berbisnis, dan sifat negatif – negatif lainnya, di film AAC2 ini seorang muslim Fahri ditampilkan sebagai sosok pintar sebagai doktor dan dosen kampus ternama di Skotlandia, suka menolong tetangganya, sukses berbisnis, dan juga rajin beribadah.

“Sosok muslim Fahri berusaha mengaplikasikan ajaran Islam secara komprehensif terhadap para tetangganya. Para tetangganya yang hampir kebanyakan berbeda keyakinan dengannya dan pada awalnya berpikiran negatif terhadapnya menjadi berbalik menghormati dan respek sama seorang muslim Fahri karena akhlak baik dan cintanya,” ujar Al Mansur usai nonton bareng film Ayat – Ayat Cinta2.

Menurut Al Mansur, sosok Fahri ternyata sukses menjalankan ‘syariat Islam’ ditengah kemajemukan warga Skotlandia. Fahri yang juga seorang manusia, tentunya perlu teman sebagai penyeimbang dan juga pemberi nasehat. Di sana ada Hulusi dan juga Misbah yang sering mengingatkan dan menyuplai nasehat – nasehat pertemanan kepada Fahri.

Di film AAC2 ini juga ada sekelumit cerita kisah sosial mengenai konflik antara Palestina dan Israel dengan menggambarkan Aisha istrinya Fahri sebagai petugas kemanusiaan di Palestina yang tertangkap tentara Israel.  Ada juga permasalahan mengenai hubungan antara Islam dan Yahudi dengan menghadirkan pasangan karakter ibu dan anak, Catarina dan Baruch.

Tentu dalam sebuah film drama tidak lengkap jika tidak dibumbui dengan kisah lika – liku cinta sebuah keluarga. Seorang Fahri yang ditinggal Aisha, sampai kemudian menikah lagi dengan seorang perempuan yang bernama Hulya. Kemudian ada juga sosok perempuan misterius yang menggunakan cadar, Sabina yang akhirnya menjadi pembantu rumah tangga yang tinggal di rumah Fahri. Sebelumnya Sabina dianggap peminta-minta di masjid serta sering terlihat dikejar-kejar oleh petugas keamanan. Namun akhirnya Fahri mengetahui siapa sebenarnya Sabina yang buruk muka itu dan akhirnya Tuhan takdirkan Sabina mengisi kesakinahan keluarga Fahri kembali beserta anak yang ditinggalkan oleh almarhumah Hulya.

Ada juga momen saat debat ilmiah antara Muslim Fahri vs Profesor Yahudi. Argumentasi Fahri yang menolak Clash of Civilization Samuel Huntington tidak terbantahkan. Fahri, justru mengutip perkataan Syaikh Said Nursi,  “Hal yang paling layak untuk dicintai adalah cinta itu sendiri dan hal yang paling layak dibenci adalah kebencian itu sendiri.”

Kita mungkin akan dibuat lupa, film ini drama romantis, religi atau komedi karena ada  sisipan beberapa adegan lucu yang akan membuat kita sebagai penonton tertawa dan tidak merasa bosan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*