Kabid Seni dan Budaya PKS Jaksel:  Mari Menggali Hikmah Ramadhan dari Kolang – Kaling

Spread the love

Bicara kolang – kaling saat ramadhan, mungkin ia ada di menu buka puasa Anda sekarang. Buah putih dan pipih seukuran ibu jari orang dewasa itu, seperti telah menjadi makanan khas Ramadhan. Kolang -kaling dijadikan kolak atau lebih sering dicampur dengan es batu dan sirup, jadilah ia menu takjil yang sangat enak. Kolang – kaling berasal dari buah pohon aren / kawung (arengan pinnata).

 

Dalam sejarah masyarakat Sunda, pohon kolang – kaling atau pohon aren tidak saja memiliki fungsi sosial, ekonomi ekologi dan budaya, tetapi ia juga memiliki nilai historis dalam pembentukan sebuah nama daerah di tatar Sunda, serta mempengaruhi perkembangan seni dan mitologi kasundaan. Hal ini menunjukkan bahwa para leluhur Urang Sunda sudah sangat memahami filosofi pohon aren sebagai tanaman multiguna ini hingga mengaitkannya dengan kebermaknaan hidup masyarakat di zamannya. Contohnya adalah nama Bogor, dalam filosofi Sunda, kata “bogor” berarti “tunggul kawung” (sisa penebangan pohon aren) yang merupakan simbol kekuatan yang tak terduga. Arti kata bogor sebagai tunggul kawung dan maknanya sebagai kekuatan yang hebat ini terdapat pada sebuah pantun bogor, yakni Pantun Pa Cilong, “Ngadegna Dayeuh Pajajaran” yang berbunyi sebagai berikut :  Tah di dinya, ku andika adegkeun eta dayeuh laju ngaranan Bogor sabab bogor teh hartina tunggul kawung.


Sementara dalam filosofi Jawa, kolang – kaling banyak digunakan sebagai motif dalam pola batik, contohnya adalah pola batik kawung. Dalam filosofi Jawa, kata kawung sendiri merupakan singkatan dari kalimat “kawuningono uwong urip kuwi ono kang nguripake“, yang artinya, “Mengertilah bahwa orang hidup itu ada yang menghidupkan”. Motif ini memang melambangkan harapan agar dalam kehidupannya, manusia selalu ingat kepada Tuhan. Bentukan motif batik kawung ini terdiri dari 4 bentuk geometris elips yang menyatu pada 1 titik tengah – menggambarkan “sangkan paraning dumadi” atau asal mula kehidupan manusia. Keempat bentuk geometris elips tersebut menggambarkan 4 unsur kehidupan, yaitu:

 

  1. Unsur BUMI, yaitu sifat angkara murka yang harus dikendalikan untuk meraih kehidupan yang sentosa
  2. Unsur GENI / API, yang jika tidak dikendalikan akan menjadi watak amarah, tetapi bila dikendalikan akan menjadi watak pemberi dan sifat kepahlawanan.
  3. Unsur BANYU / AIR, yang bisa tidak dikembalikan akan membawa sifat pembohong, tetapi bila dikendalikan akan menjadi sifat jujur dan kesatria.
  4. Unsur MARUTA / UDARA, yang jika dikembangkan akan menjadi sifat adil dan berperikemanusiaan.

 

Sedangkan  satu titik bulat di tengah yang menyatukan keempat unsur tersebut menunjukkan jati diri manusia yang disebut kasampurnaning dumadi – kesempurnaan hidup dengan 4 unsur yang harus seimbang. Titik di tengah juga melambangkan hati nurani manusia sebagai pusat pengendali nafsu. Diyakini motif kawung sudah muncul sejak abad ke-13. Ada beberapa macam varian motif kawung, seperti kawung picis, kawung bribil, kawung sen, kawung beton, atau kawung kembang.

 

Beragam filosofi yang tinggi tersirat dari bentuk batik motif kawung ini.

  • Buah kolang-kaling yang berwarna putih tersembunyi di balik kulit yang keras diartikan bahwa kebaikan hati kita tidak perlu diumbar oleh orang lain.
  • Pohon aren juga berguna dari ujung daun sampai ujung akar, yang diartikan bahwa manusia itu hidupnya harus berguna bagi siapa saja.

 

Bagi mereka yang memakai batik motif kawung ini, diharapkan agar menjadi manusia yang baik dan menjadikan hidupnya penuh makna, tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi orang lain dan lingkungan sekitarnya.

 

Pohon arena tau pohon kolang – kaling, oleh kebanyakan orang sering hanya dianggap sebelah mata, dan hanya dianggap sebatas tanaman yang tumbuh liar di hutan, tumbuh liar di lereng gunung diantara pepohonan yang rindang, atau tumbuh di pinggir – pinggir sungai.  Walaupun dianggap sebelah mata, pohon kolang – kaling memberikan khidmat kemanfaatan yang lur biasa, semua bagian pohon bermanfaat bagi kehidupan makhluk lain, khususnya manusia. Dan tidak merasa terganggu jika bagian dari tubuhnya dimanfaatkan oleh makhluk disekelilingnya. Hampir seluruh bagian pohon ini dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk yang mempunyai nilai jual dan bernilai ekonomi, mulai dari bagian akar, batang, ijuk, buah, daun, dan juga bunganya. Tidak hanya itu, peran dan fungsinya terhadap lingkungan hidup, sangat mendukung kelestarian sumber daya alam, pohon ini memberikan nilai ekonomi yang tak ternilai besarnya karena berfungsi sebagai tanaman konservasi yang sangat efektif dalam penanggulangan degradasi lahan dan reboisasi. Sumbang sih tanaman perkebunan yang satu ini terhadap kelestarian lingkungan sudah tidak diragukan lagi, maka dari itu sangat cocok digunakan sebagai tanaman dalam upaya pelestarian lahan, air dan lingkungan tumbuh lainnya. Hal ini dikarenakan kolang – kaling dapat tumbuh dengan baik pada berbagai ekosistem, kolang – kaling toleran pada pertanaman campuran, kolang – kaling memiliki perakaran dan tajuk yang lebat, tidak memerlukan pemeliharaan yang intensif, sehingga cocok digunakan pada lahan marginal.

 

Sungguh tak ternilai manfaat yang dihasilkan oleh sebatang pohon kolang – kaling, bayangkan saja semua bagian tubuhnya mempunyai nilai ekonomi, memberikan manfaat bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Memperhatikan filosofi pohon kolang – kaling dan azas manfaat yang dihasilkannya, memberikan gambaran dan ajakan yang sangat tepat agar manusia bisa belajar dan memaknai hidup seperti pohon aren. Artinya dalam menjalani hidup tidak membuat dan menimbulkan kerusakan terhadap lingkungan dalam bentuk apapun akan tetapi sebaliknya, harus mampu menjaga dan memberikan kelestarian dan kemanfaatan terhadap lingkungan.

 

Bercermin pada batang pohon kolang – kaling yang tumbuh tegap menjulang tinggi, maka pohon kolang – kaling dapat dijadikan sebagai simbol jiwa yang kuat, kokoh, beradab dan kaya akan manfaat. Maksud Kuat, kokoh dan beradab disini adalah mampu mengayomi masyarakat kecil yang lemah atau yang kurang beruntung di wilayah sekitarnya dan bukan sebaliknya, mentang-mentang kuat dan berkuasa maka semena-mena untuk menindas sesama atau menghimpit dan menekan masyarakat yang lemah. Kaya akan manfaat disimbolkan dengan mempunyai penghasilan yang banyak alias kaya akan tetapi tidak kikir dan pelit karena apa yang dia miliki digunakan untuk bisa memberi manfaat positif bagi yang membutuhkannya.

 

Satu hal yang paling menarik adalah sebatang pohon kolang – kaling tidak pernah marah ketika orang mengambil bagian tubuhnya untuk dimanfaatkan dalam keberlangsungan hidup orang tersebut. Hal ini melambangkan dan mengajarkan manusia agar tidak protes jika telah bekerja keras, namun hasil kerja keras tersebut dimanfaatkan oleh orang yang lebih membutuhkan.

 

Filosofi pohon kolang – kaling, menggambarkan bahwa sesungguhnya pohon kolang – kaling merupakan pohon terkaya dibandingkan dengan pohon lainnya, akan tetapi kehidupannya mencerminkan kesederhanaan, dia masih tetap sabar walau ijuk nya diambil, buah nya dipetik, daun tuanya ditebas, ternyata hal ini tidak membuatnya menjadi miskin dan menderita.

 

Pohon kolang – kaling ini menghasilkan buah, buahnya menghasilkan biji yang biasa kita sebut kolang kaling dan menghasilkan multifungsi. Ibarat seorang yang bekerja, bagaimana agar hidup dapat memberikan dampak positif terhadap anak buah, atasan dan orang lain disekelilingnya. Seorang pimpinan jangan mempermasalahkan posisi atau jabatannya, tapi tunjukkanlah hal yang memberikan pengaruh, motivasi dan inspirasi kepada bawahan dan orang lain.

 

Kolang-kaling juga adalah sahabat yang tidak bisa disakiti, jika kita menyakitinya, ia akan membalas dengan sangat menyakitkan. Pada saat mengupas kulitnya, jika tidak berhati-hati, getahnya dapat terkena tangan, saat itulah ia akan menyerang balik. Getah kolang-kaling bisa menimbulkan gatal-gatal luar biasa, susah mencari penawarnya. Jika getah itu menetes di satu bagian tubuh dan digaruk, ia akan menyebar ke bagian tubuh lain, bahkan bisa ke seluruh tubuh.

 

Pada bulan ramadhan, kolang – kaling yang awalnya diangggap sebelah mata itu kini sering disandingkan dengan buah kurma, buah yang melekat kuat dalam sejarah Islam. Kolang – kaling yang awalnya dianggap buah pinggiran tak berarti, bersanding dengan  buah bersejarah dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Kolang – kaling dan kurma disandingkan menjadi makanan pembuka dalam takjil berbuka puasa. Kolang-kaling dan korma memang punya beberapa kemiripan, keduanya merupakan jenis buah-buahan dari pohon yang tipologi dan karakternya hampir sama. Uniknya, kolang-kaling dan korma tampak berhubungan dekat justru karena perbedaannya, misalnya saja kolang-kaling berwarna putih, sedangkan kurma coklat kehitam-hitaman, kolang – kaling merupakan biji yang dapat dimakan, sementara biji korma dibuang. Sebuah pesan tersembunyi yang ingin ditunjukan tentang misi rahmatan lil alamin. Islam adalah agama yang memberi ruang terbuka untuk mempertemukan berbagai kemungkinan, bukan cuma soal pertemuan kultur, tapi juga karakteristik alam, ras, warna kulitdan lain – lain. Kolang-kaling dan kurma, sebagai jenis buah dari alam yang berbeda, dipertemukan pada sebuah meja untuk menyambut berbuka puasa.

 

Rasulullah Saw bersabda : “Khoirunnas anfa’uhum linnas”  Artinya : Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. (HR Ahmad dan Thabrani)

 

Bang Epri, Kabid SenBud PKS Jaksel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *