Default Web Anda | Update:
PKS-Jaksel.or.id
Cari  
Beranda
Sabtu, 04 September 2010 @ 06:24
  
   
   
 
Belum terdaftar? Daftar akun baru
Sekretariat
Jl. Cilandak KKO Raya No. 17 Kelurahan Cilandak Timur
Kecamatan Pasar Minggu
Jakarta Selatan 12560
Telp: +6221-780-1-870
E: redaksi[at]pks-jaksel.or.id
User Terakhir Online
ningsih
15:15:44 - 02.09.2010
wahyoedie
11:41:15 - 02.09.2010
andrian
14:13:07 - 30.08.2010
albatani
16:52:38 - 27.08.2010
ali
10:17:01 - 27.08.2010
Artikel | Opini
Sabtu, 20 Maret 2004 - 20:12 (2056 Dibaca)
MEMAKNAI KEMBALI ARTI KEMERDEKAAN
 www.pks-jaksel.or.id
Kirim artikel ini ke teman Cetak halaman ini

PK Sejahtera-JakSel Tidak terasa, sudah 58 tahun bangsa ini menikmati alam kemerdekaannya. Usia tersebut memang belum bisa dihitung sebagai umur dewasa bagi sebuah bangsa.Tapi, jika dibandingkan dengan banyak negara yang umur kemerdekaannya lebih muda dari kita, sungguh amat ironis apa yang kita alami sebagai bangsa hari ini. Kita jauh tertinggal dari mereka. Lantas apa arti kemerdekaan yang sudah 58 kita enyam ini. Seharusnya, dengan logika normal, kita bisa berhitung. Dengan potensi alam dan SDM yang melimpah, anugerah kemerdekaan itu harusnya telah mendorong bangsa ini menjadi bangsa maju. Dan tumbuh dengan cepat. Tapi, toh realitasnya tidak begitu. Menurut data BPS 2003, di negeri ini masih ada lebih 38,2 juta orang di bawah garis kemiskinan, di negeri pula terdapat hampir 13,9 juta penganggur.





Lebih parah lagi ratusan ribu orang terlunta di barak pengungsian, jutaan anak bangsa kekurangan gizi. Masih banyak lagi kisah orang-orang termarjinalkan di negeri yang "katanya merdeka" ini. Itulah bangsa kita. Bangsa yang tergadaikan kemerdekaannya. Tergadai oleh bangsa asing (baca IMF, AS), tergadai oleh orang-orang berduit, penguasa korup, partai korup pemenang pemilu dan manusia picik lainnya. Karenanya, saat ini kemerdekaan belum dirasakan sebagai sebuah nilai universal yang dapat dirasakan oleh setiap orang. Pantaslah, jika kemerdekaan sebagai sebuah nikmat besar dan anugrah agung bagi bangsa ini masih belum mampu merubah kondisi sebagian besar rakyat. Kita masih menjadi bangsa miskin, terbelakang, yang mulai menjauh dari "sejarah peradaban".





Mungkin, sering timbul dalam alam pikiran kita, "apatah sesunggguhnya kita telah merdeka?" Tentu,







merdeka dalam pengertian yang hakiki. Bagi bangsa Indonesia, merdeka dalam pengertian yang demikian ternyata suatu yang langka. Sungguh pun negeri ini diberikan karunia berupa alam raya yang amat subur. Ternyata, kondisi suburnya tanah; melimpahnya sumber daya alam; letak geografis yang strategis; potensi SDM yang melimpah dengan beragam keahlian, suku bangsa dan bahasa, ternyata belum menjadi jaminan untuk bisa meraih kemerdekaan (kebebasan) itu. Bahkan, bisa jadi bangsa dan rakyat kebanyakkan justru merasakan tertindas dan terkukungkung oleh bangsanya sendiri.





Arti Kemerdekaan



Dalam upaya memaknai kembali kemerdekaan yang mulai terhempas dari negeri ini, kiranya kita perlu menelaah kembali arti kemerdekaan. Selama ini kemerdekaan didefinisikan sebagai suatu keadaan berdiri sendiri, bebas, lepas, tidak terjajah, atau dengan kata lain, kemerdekaan identik dengan kebebasan (freedom). Dan kebebasan itulah yang paling asasi untuk kita miliki.Sebab, dengan kebebasan itu seseorang dapat berbuat tanpa pembatasan-pembatasan (the ability to act without restrictions). Acap kali kita mengartikan kemerdekaan secara serampangan. Kemerdekaan seringkali diterjemahkan sebagai kebebasan tanpa batas untuk menuntut hak-hak, tanpa diiringi pelaksanaan kewajiban. Ironisnya, persepsi salah kaprah itu hampir melekat pada setiap lapis elemen bangsa, dari rakyat biasa sampai penguasa, mulai kaum awam hingga cendekiawan, bahkan mahasiswa! Yang paling sering terjadi --akibat salah mempersepsikan kemerdekaan-- karena merasa berkuasa, kekuasaan itu kemudian kerap digunakan untuk menindas orang lain atau menguras harta kekayaan negara ini. Inilah penyebab utama keterpurukkan kita.





Jadi Bagaimana seharusnya kita memaknai kemerdekaan itu? Apa yang ditulis Didin Hafidhuddin, dalam sebuah kolomnya, patut direnungi, menurutnya kemerdekaan pada dasarnya merupakan sesuatu yang sangat emosional bagi setiap pribadi maupun bangsa. Kemerdekaan merupakan hak yang sangat asasi dan bersifat fundamental dalam kehidupan.




Kemerdekaan itu akan menjadikan hidup menjadi lebih berarti dan bermakna, manakala diisi dan dihiasi dengan nilai-nilai, norma-norma, dan amal yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.Jadi sangat jelas, persoalan kemerdekaan bangsa, bukan sekadar masalah kebebasan an sich. Tapi, juga seharusnya kemerdekaan juga dipandang sebagai sebuah nikmat seperti nikmat-nikmat lainnya. Layaknya sebuah nikmat, maka ia juga berarti sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Karena itu menjadi kewajiban kita untuk memelihara nikmat itu dengan sebaik-baiknya. Caranya, dengan memaknai dan memandang kemerdekaan dalam perspektif yang benar. Tentu dengan bingkai keislaman. Kemerdekaan yang kita sandang ini, kita manfaatkan untuk membebaskan diri dari sifat-sifat yang meruntuhkan wibawa kamanusiaan yang dapat memenjarai orang lain. Ini artinya ketika seorang menjadi penguasa yang merdeka, ia akan terikat oleh norma dan aturan yang ada. Penguasa tidak boleh menggunakan kemerdekaan dan kekuasaanya untuk mengejar ambisi-ambisi pribadinya saja. Tapi, kekuasaan itu hendaknya ia gunakan untuk kemakmuran dan kesejahteraan seluruh rakyatnya. Ini artinya pula tidak boleh ada rakyaknya yang menderita, terintimidasi, termarjinalisasi, lebih-lebih terenggut hak hidupnya.Hakikat kemerdekaan yang dikemukakan Didin di atas setidaknya dapat menjadi acuan, karena memahami hakikat kemerdekaan atau kebebasan adalah kunci menemukan kembali harga diri bangsa. Tidak sekedar memahami, memanifestasikan pemahaman dalam tataran perilaku merupakan suatu urgensi demi menyelamatkan bangsa ini. Tanpa harga diri, masih pantaskah kita berdiri tegak, menyaksikan bangsa lain mencibir akan "prestasi" bangsa kita yang korup, yang bodoh, yang miskin dan terbelakang?





Agar kemerdekaan dan harga diri bangsa tidak menjadi suatu keniscayaan, kita harus mulai tugas kita dari sekarang.





Mari menjadi manusia merdeka.





Jamal - Dari berbagai sumber



Kirim ke rekan  Kirim artikel ini ke teman  | Cetak naskah ini  Cetak halaman ini
MEMAKNAI KEMBALI ARTI KEMERDEKAAN | Log-in atau daftar username baru | 0 Komentar
Komentar adalah pernyataan yang dibuat oleh seseorang dari postingnya.
Hal tersebut tidak harus mencerminkan opini dari situs ini.

Yang Online: Ada 6 user yg belum daftar dan 0 user terdaftar
Situs resmi (Official Site) DPD PKS Jakarta Selatan. Online sejak Juni 2003. [hdn] + Postnuke. Seluruh artikel, gambar, dan sebagainya yang ada di dalam situs ini adalah milik DPD PKS Jakarta Selatan, dan boleh disebarluaskan untuk kepentingan da'wah dengan tetap mencantumkan URL situs ini dan pemiliknya.
Redaksi: redaksi at pks-jaksel.or.id - Webmaster: webmaster at pks-jaksel.or.id