
PKS Jaksel: Ketika kearifan dan kezuhudan menyatu dalam diri seseorang, maka langkah-langkah kemajuan spiritualnya telah mencapai tahap-tahap ideal. Dengan kearifannya ia akan selalu memuji Allah Swt sebagai refleksi rasa sykurnya atas nikmat Allah yang tak terhingga yang dianugerahkan kepadanya. Dengan pujian yang tak henti-hentinya itu pula ia dimungkin dapat meraih kepuasaan Allah Swt terhadap dirinya. Dengan kezuhudannya ia akan selalu berusaha membersihkan dirinya dari segala noda yang dapat mengalingi dirinya memperoleh kecintaan-Nya dan karenanya ia dimungkinkan meraih puncak keberagaanya, yaitu keshalihan.
Akhirnya,
kearifan dan kezuhudan akan menenteramkan jiwa sang diri. Sedangkan
ketenteraman jiwa adalah syarat untuk memperoleh panggilan-Nya. “Hai
jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi
diridhai-Nya.. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,. masuklah
ke dalam syurga-Ku.” (QS al-Fajr 89: 27-30)
Kemajuan spiritual adalah bekal utama setiap individu dalam
pengembaraannya yang panjang dan melelahkan. Kearifan dan kezuhudan
merupakan sebagian tanda kemajuan spiritual seseorang. Dengan kemajuan
itu ia dimungkinkan dapat tegar menghadapi berbagai deraan yang
menghantam di perjalanannya. Ketegaran itu pula yang membuatnya tidak
mengalami kelelahan jiwa yang menyebabkan dirinya bisa tercampak dari
kemuliaannya.
Bagi orang yang menekuni jalan spiritual, istilah 'Arif dan Zahid tidak
asing di telinganya. Dua istilah yang populer di kalangan ahli ibadah
ini mengacu pada tingkat kemajuan spiritual seseorang.
Orang ‘Arif
adalah orang yang dapat memandang apa yang tersirat pada sesuatu
kejadian, peristiwa, keadaan, atau masalah. Dalam istilah sufi orang
yang tergolong 'Arif adalah orang yang telah mengenali dirinya dan
Tuhannya dengan pengenalan yang baik.
Pengenalan pada dirinya itu tidak berhenti hanya pada tingkatan
psikologis melainkan juga pada penghalang-penghalangnya yang menutupi
pengetahuannya terhadap eksistensi Tuhan.
Oleh sebab itu orang 'Arif, dengan melalui disiplin asketik (al-mujahadah), selain mengenali dirinya sebagai hamba Allah, dengan segala kelemahan yang ada padanya, juga mampu membuka selubung kosmik yang menghalangi cahaya surga untuk menyinari jiwa dan kehidupannya. Orang yang selalu bermujahdah akan dapat terbebas dari setiap selubung yang menghalangi karunia ridha Allah dan cahaya-Nya yang terang benderang.
Orang ‘Arif lebih berkonsentrasi memuji Allah Swt demi meraaih
ridha-Nya. Sedangkan esensi memuji Allah adalah sebuah pengakuan bahwa
segala bentuk pujian hanyalah milik Allah. Dia adalah Pemilik segala
sifat yang pantas mendapat pujian.
Pada hakikatnya, dengan memuji Allah Swt seseorang, secara spiritual,
sedang berusaha melebur egosentrisitas dirinya dan mengikis habis
kesombongan sang diri. Dengan ketulusan memuji Allah berarti seseorang
telah menyadari sepenuhnya akan kepemilikan-Nya atas segala sesuatu,
termasuk dirinya sendiri.
Pengucapan pujian kepada Allah yang disertai dengan pemahaman dan
keyakinan yang bertahta di hati, akan membuka ruang kesadaran baru.
Yaitu kesadaran bahwa dirinya sebagai makhluk Allah yang lemah, tidak
memiliki kuasa apa pun dan terhadap siapa pun.
Kesadaran seperti inilah
yang membuat seseorang menjadi dewasa secara ruhiah dan arif dalam
memahami dan memaknai setiap peristiwa. Ia akan menjadi lebih rendah
hati (tawadlu’), puas dengan hasil yang diperoleh, walaupun secara
kuantitas sedikit, dan tidak menderita keluh kesah. Di sisi lain, akan
lahir energi baru untuk bekerja optimal, mengerahkan segenap kemampuan
untuk meraih prestasi tertinggi.
Pujian kepada Allah adalah refleksi penghambaan diri secara mutlak dan
ketundukan seorang hamba kepada-Nya. Selain itu ia juga merupakan
implementasi rasa syukur seorang hamba kepada Tuhannya. Oleh karena itu
pujian kepada Allah tidak hanya sebagai kewajiban kemanusiaan tetapi
juga menunjukkaan kualitas kesadaran tentang keharusan bersyukur
seseorang terhadap segala nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya.
Dengan begitu ia akan memuji Allah dalam segala ruang dan waktu.
“Segala puji bagi Allah yang memelihara apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan bagi-Nya (pula) sega puji di akhirat. Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS Saba’ 34: 1).
Sementara itu Zahid (orang zuhud) adalah orang yang semata-mata taat kepada Allah dan tidak terbersit untuk menumpahkan ketaatan kepada selain-Nya. Menurut ulama salaf, zuhud ialah menanggalkan segala bentuk kecintaan dan ketergantungan kepada sesuatu untuk mencintai dan bergantung hanya kepada Allah Swt.
Inti zuhud adalah tidak terpengaruh
atau tidak bergantungnya hati kepada berbagai hal yang berkaitan dengan
kenikmatan dan atribut duniawi.
Baginya, jika dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat, urusan dunia
itu tidak ada nilai langsung. Rasulullah Saw bersabda, ”Jadilah kamu di
dunia seperti orang asing atau musafir.”(HR, Bukhari). Dengan demikian
dirinya tidak merasakan pengaruh apa pun terhadap dunia.
Zuhud dalam aplikasinya dapat menumbuhkan sifat-sifat baik bagi diri
seseorang. Sejalan dengan sifat-sifat baiknya itu ia akan terus
mengalami kemajuan spiritualnya dan mencerminkan kearifan.
Zuhud akan
melahirkan sifat qana’ah (menerima apa adanya yang diberikan oleh Allah
Swt), memunculkan sifat tawakkal (kesungguhan hati dalam bersandar
kepada Allah Swt), menumbuhkan kemampuan untuk meninggalkan
kenikmatan-kenikmatan sesaat demi kenikmatan abadi di alam akhirat,
mengantarkan kedekatan diri dengan Allah Swt dengan penuh kecintaan,
mengasah sensifitas kehati-hatian dirinya dalam memelihara kecerahan
hati, meredakan gejolak hati terhadap nikmat dunia untuk meraih jiwa
yang muthma`innah, dan dapat meraih kecintaan orang terhadap dirinya.
Rasulullah Saw adalah orang yang paling giat bekerja dan beramal
shalih, semangat dalam ibadah, dan gigih dalam berjihad. Akan tetapi
pada saat yang sama beliau lebih mementingkan kebahagiaan hidup di
akhirat dan keridhaan Allah Swt daripada kenikmatan duniawi.
Ibnu
Mas’ud Ra melihat Rasulullah Saw tidur di atas kain tikar yang lusuh
sehingga membekas di pipinya, kemudian berkata, ”Wahai Rasulullah Saw,
bagaimana kalau saya ambilkan untukmu kasur?” Rasulullah Saw menjawab,
”Untuk apa dunia itu! Hubungan saya dengan dunia seperti pengembara
yang mampir sejenak di bawah sebatang pohon, kemudian pergi dan
meninggalkannya.” (HR. al-Tirmidzi)
Oleh sebab itu langkah orang zuhud selalu memilih jalan di sisi Allah
dan berpaling dari sesuatu untuk membebaskan diri dari kecintaan dan
ketergantungan pada selain Allah. Rasulullah Saw bersabda, "Zuhudlah
terhadap dunia, maka Allah akan mencintaimu dan zuhudlah terhadap
sesuatu yang dimiliki orang lain, maka setiap orang akan mencintaimu."
(HR. Ibnu Majah)
Sesungguhnya, kearifan dan kezuhudan sebagai indikator kemajuan
spiritual saling berkaitan dan berkelindan. Tanpa pemahaman yang
sempurna tentang hakikat Tuhan, manusia, dan dunia, mustahil seseorang
akan dapat menjadi orang yang zuhud. Sebaliknya tanpa kezuhudan juiga
tak mungkin orang akan menjadi arif dikarenakan hakikat kezuhudan
adalah kesalihan sang diri. Selain kalbu yang kotor pasti tidak akan
dapat mengenal Tuhannya secara jernih. Tidak akan dapat memahami
hakikat diri dan alam sekitarnya.
Orang yang tidak mengenal Tuhannya, pasti tidak akan dapat bersyukur
dan karenanya pula ia tidak akan dapat memuji-Nya siang dan malam. “Dan
sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa
takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang,
dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. al-A’raaf 7:
205).
Yakinlah, ketika kita memuji Allah, pada hakikatnya pujian itu akan kembali ke kita dalam bentuk energi pencerahan. Secara tidak sadar, kita menjadi semakin arif, bijaksana, jujur, ulet, optimis menatap masa depan, dan etos kerja kita semakin unggul. Wallahu A’lam.
--ustadz Abu Ridha
| Ketika Kearifan dan Kezuhudan Menyatu | Log-in atau daftar username baru [3] | 0 Komentar | |
|
| |
| Komentar adalah pernyataan yang dibuat oleh seseorang dari postingnya. Hal tersebut tidak harus mencerminkan opini dari situs ini. |