Home » Jakarta » Ibu Asmara Dewi : Pengetahuan Ketahanan Keluarga Penting Untuk Hindari Kekerasan Pada Anak Kandung

Ibu Asmara Dewi : Pengetahuan Ketahanan Keluarga Penting Untuk Hindari Kekerasan Pada Anak Kandung

asmara dewiBeberapa hari terakhir ini kita dikejutkan oleh pemberitaan media cetak serta online tentang kasus kekerasan pada anak kandung yang menyebabkan kematian di Jakarta, tepatnya di daerah Kebon Jeruk.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan, kekerasan pada anak selalu meningkat setiap tahun. Hasil pemantauan KPAI dari 2011 sampai 2014, terjadi peningkatan yang sifnifikan. Tahun 2011 terjadi 2178 kasus kekerasan, 2012 ada 3512 kasus, 2013 ada 4311 kasus, 2014 ada 5066 kasus.

Anak bisa menjadi korban ataupun pelaku kekerasan dengan lokus kekerasan pada anak ada 3, yaitu di lingkungan keluarga, di lingkungan sekolah dan di lingkungan masyarakat. Hasil monitoring dan evaluasi KPAI tahun 2012 di 9 provinsi menunjukkan bahwa 91 persen anak menjadi korban kekerasan di lingkungan keluarga.

Ketua Bidang Perempuan dan ketahanan Keluarga (BPKK) PKS Jaksel, Ibu Asmara Dewi mengatakan bahwa, “Kekerasan pada anak bisa terjadi di mana saja. Secara statistik, keluarga merupakan tempat paling sering terjadinya tindak kekerasan pada anak. Ironisnya, hal ini kebanyakan dilakukan oleh para orangtua.”

Kenakalan anak adalah hal yang paling sering menjadi penyebab kemarahan orang tua, sehingga anak menerima hukuman dan bila disertai emosi maka orangtua tidak segan untuk memukul atau melakukan kekerasan fisik. Bila hal ini sering dialami oleh anak maka akan menimbulkan luka yang mendalam pada fisik dan batinnya.

Banyak orang tua menganggap kekerasan pada anak adalah hal yang wajar. Mereka beranggapan kekerasan adalah bagian dari mendisiplinkan anak. Mereka lupa bahwa orangtua adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam mengupayakan kesejahteraan, perlindungan, peningkatan kelangsungan hidup, dan mengoptimalkan tumbuh kembang anaknya. Keluarga adalah tempat pertama kali anak belajar mengenal aturan yang berlaku di lingkungan keluarga dan masyarakat. Namun orang tua menyikapi proses belajar anak yang salah ini dengan kekerasan.

Masyarakat sering beranggapan bahwa orang yang menganiaya anaknya mengalami kelainan jiwa. Tetapi tidak sedikit pelaku penganiayaan sebenarnya menyayangi anak-anaknya namun cenderung bersikap kurang sabar dan kurang dewasa secara pribadi. Karakter seperti ini membuatnya sulit memenuhi kebutuhan anak-anaknya dan meningkatkan kemungkinan tindak kekerasan secara fisik atau emosional. Namun, tidak ada penjelasan yang menyeluruh tentang penganiayaan pada anak. Hal itu terjadi sebagai akibat kombinasi faktor dari kepribadian, ekonomi, sosial dan budaya.

Menurut Richard J. Gelles, Ph.D. Faktor-faktor penyebab penganiayaan ini dapat dikelompokkan dalam empat kategori utama, yaitu :

1. Perilaku Kekerasan Menurun ke Anaknya
Banyak anak belajar perilaku jahat dari orang tua mereka dan kemudian berkembang menjadi tindak kekerasan. Jadi, perilaku kekerasan diteruskan antar generasi. Penelitian menunjukkan bahwa 30% anak-anak korban tindak kekerasan menjadi orang tua pelaku tindak kekerasan. Mereka meniru perilaku ini sebagai model ketika mereka menjadi orang tua kelak.

2. Ketegangan Sosial
Stres yang ditimbulkan oleh berbagai kondisi sosial (pengangguran, kemiskinan, alkohol, obat-obatan) meningkatkan risiko tindak kekerasan pada anak dalam sebuah keluarga.

3. Isolasi sosial
Para orang tua yang melakukan tindak kekerasan pada anak cenderung kurang bersosialisasi dengan lingkungannya.

4. Struktur Keluarga
Tipe keluarga tertentu memiliki risiko anak terlantar dan terjadi tindak kekerasan pada anak. Sebagai contoh :
• Orang tua tunggal lebih sering melakukan tindak kekerasan pada anak-anak daripada bukan orang tua tunggal.
• Keluarga-keluarga dengan keretakan perkawinan yang kronis atau tindak kekerasan pada pasangannya mempunyai tingkat tindak kekerasan pada anak lebih tinggi daripada keluarga-keluarga tanpa masalah seperti ini.
• Keluarga-keluarga yang didalamnya baik suami atau istri mendominasi pengambilan keputusan, mempunyai tingkat tindak kekerasan pada anak lebih tinggi daripada keluarga-keluarga yang di dalamnya para orang tua membagi tanggung jawab untuk keputusan-keputusan ini.

Psikolog anak, Vera Itabiliana, Psi. menambahkan bahwa faktor ekonomi juga bisa berperan, “Faktor ekonomi dapat melatarbelakanginya di mana kekerasan timbul karena tekanan ekonomi. Tertekannya kondisi keluarga yang disebabkan himpitan ekonomi adalah faktor yang banyak terjadi yang menyebabkan kekerasan pada anak.”

Kunci persoalan kekerasan terhadap anak disebabkan karena tidak adanya komunikasi yang efektif dalam sebuah keluarga. Sehingga yang muncul adalah stereotyping (stigma) dan predijuce (prasangka). Dua hal itu kemudian mengalami proses akumulasi.

Untuk menghindari kekerasan terhadap anak adalah bagaimana anggota keluarga saling berinteraksi dengan komunikasi yang efektif. Sering kita dapatkan orang tua dalam berkomunikasi terhadap anaknya disertai keinginan pribadi yang sangat dominan, dan menganggap anak sebagai hasil produksi orang tua, maka harus selalu sama dengan orang tuanya dan dapat diperlakukan apa saja.

Anak juga sering diperlakukan sebagai orang dewasa mini oleh orangtua. Anak dianggap memiliki kekuatan yang sama dengan orang dewasa. Orang tua mengasumsikan bahwa anak mereka kuat menahan segala perlakuan keras pada dirinya. Padahal, fisik dan jiwa anak sangat ringkih.

Pada orangtua yang tidak memiliki riwayat gangguan jiwa atau pengalaman traumatis di masa kecil, sebenarnya tindakan kekerasan pada anak bisa dihindari. Mendekatkan diri pada Tuhan merupakan hal utama yang disa dilakukan. Tidak hanya orangtua, tapi juga anak dan anggota keluarga lain yang tinggal di dalam lingkungan rumah. Setiap agama mengajarkan untuk berbuat baik pada semua orang sehingga keluarga yang taat beragama bisa menghindari tindakan kekerasan dalam keluarga mereka.

Selain itu, komunikasi antar sesama anggota keluarga juga harus terjalin dengan baik. Pasanga suami istri harus memiliki hubungan komunikasi yang baik sehingga bisa menghindari pertengkaran dalam keluarga. Begitu juga dengan orangtua dan anak, komunikasi harus terjalin dengan baik agar orangtua bisa mengerti kemauan anak dan begitu pula sebaliknya.

Ibu Asmara Dewi mengatakan bahwa warga bisa mengunjungi Rumah Keluarga Indonesia yang ada di setiap kantor DPD atau DPC PKS. “Jangan ragu meminta bantuan jika terjadi masalah di dalam keluarga yang tidak bisa diselesaikan sendiri. Masalah suami – istri pun pada akhirnya bisa mengakibatan tindak kekerasan pada anak.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>