Home » Nasional » Hidayat Nur Wahid : Masyarakat Harus Terlibat di Dalam Siskamling Melawan Hoax
Hidayat Nur Wahid : Masyarakat Harus Terlibat di Dalam Siskamling Melawan Hoax

Hidayat Nur Wahid : Masyarakat Harus Terlibat di Dalam Siskamling Melawan Hoax

Peran masyarakat sangat vital dalam menjaga keutuhan NKRI dari ancaman radikalisme, terorisme, intoleransi, dan gangguan keamanan lainnya, di era globalisasi teknologi informasi.

Mudahnya orang menyebarkan informasi memang sangat menguntungkan untuk menopang kemajuan jaman. Namun sebaliknya dampak negatif hal tersebut sangat besar, terutama dengan hadirnya hoax (berita bohong) dan hate speech (ujaran kebencian).

Untuk mengantisipasi dan meredam semakin liarnya hoax dan hate speech, masyarakat diminta untuk peduli dengan ‘lingkungan’ saat berselancar di dunia maya terutama saat beraktivitas di media sosial. Siskamling Medsos adalah solusi untuk meredam hoax dan hate speech dari lapisan akar rumput masyarakat.

“Dengan beragamnya penyakit masyarakat baik itu yang namanya hoax, termasuk narkoba, LGBT separatisme, komunisme, radikalisme yang semuanya bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 sangat mementingkan peran serta masyarakat,” ungkap Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid di Masjid Yayasan Al Insan, Kebagusan, Jakarta, Selasa (20/2/2018).

Peran aktif masyarakat berupa siskamling medsos itu, menurut Hidayat, harus digalakkan dan tidak harus menunggu ajakan atau program dari pemerintah. Ia menilai langkah-langkah antisipasi itu akan sangat terbantu bila masyarakat aktif melakukan deteksi dini. Ia juga menegaskan bahwa siskamling medsos adalah cari jitu menangkal hoax dan ujaran kebencian dari tingkat akar rumput.

“Masyarakat harus terlibat di dalam siskamling melawan hoax, baik itu menyebarkan dan menerimanya dari terdampak pengaruh pada hoax. Karena hoax ini pengaruhnya cukup dahsyat. Masyarakat sering tidak melakukan klarifikasi, kemudian mengambil atau menerima mentah mentah saja pesan itu. Hal-hal semcam itu yang bisa menyebabkan terjadinya tawuran antar kampung atau hal-hal buruk lainnya. Itu harus benar-benar dihindari,” ujar mantan Presiden PKS ini.

Oleh karena itu sangat bagus bila masyarakat yang ada di akar rumput dan bertemu dengan hoax termasuk serta penyakit masyarakat lainnya seperti narkoba, judi, prostitusi, komunisme termasuk radikalisme dan terorisme ini bisa diberdayakan.

“Peran serta dari tokoh-tokoh masyarakat, agama, juga pimpinan negara di tingkat masyarakat yakni RT/RW bisa diajak serta. Ini menjadi bagian penting bersama masyarakat melakukan siskamling medsos untuk menyelamatkan lingkungan masing-masing seperti yang sekarang sering muncul yakni hoax di media sosial,” papar pria kelahiran Klaten, 8 April 1960 ini.

Pria peraih gelar Doktor dari Universitas Islam Madinah ini menuruturkan, untuk menyelamatkan dan melindungi para generasi muda bangsa yang merupakan calon pemimpin bangsa di masa mendatang maka peran keluarga sangat penting. Keluarga harus hadir dan diberdayakan untuk betul-betul ikut bertanggung jawab kepada keluarganya masing-masing terutama kepada anak-anaknya.

“Sebab anak kita pastilah lebih banyak bersama dengan keluarga. Kalau keluarganya sakinah, mawadah, warohmah dan berkah, maka tidak mungkin ada anak yang kemudian tega menjadikan bapak ibunya nelangsa karena anaknya terlibat narkoba, komunisme atau bahkan mungkin terpapar paham radikal terorisme karena dari dampak penyebaran media massa yang tidak bertanggung jawab,” jelas Hidayat.

Dalam rangka menyambut Pilkada di tahun Politik 2018, Hidayat mengimbau agar masyarakat termasuk juga politisi yang ada di parlemen atau di luar parlemen, pejabat pemerintah dan termasuk juga orang yang tidak berada di dunia politik, untuk tidak menyebarkan hoax melalui media sosial.
“Karena yang namanya menyebarkan berita bohong itu adalah bertentangan dengan hukum, yang bisa dikenakan pasal-pasal hukum, bisa dipenjara dan bertentangan dengan agama. Karena tidak ada agama apapun yang membolehkan untuk menyebarkan berita bohong, mengadu domba, menyebar fitnah dan lain sebagainya,” urai Hidayat Nur Wahid.

Sumber : Tribunnews/20 februari 2018/Toni Bramantoro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*