Hari Pahlawan, PKS Muda Jaksel Gelar Dialog Pahlawan Pemberdaya Masyarakat

Spread the love

Ketua PKS Muda Jaksel, Bang Yusuf mengungkapkan bahwa para pahlawan merupakan seseorang yang mendarmabaktikan dirinya untuk masyarakat. Pahlawan hari ini berbeda dengan dahulu, bukan perang mengakat senjata lagi. Sekarang pahlawan para dimensi mengisi kemerdekaan dan mengejar kemajuan bangsa lain. Siapa pun bisa disebut pahlawan asalkan sanggup memanfaatkan segenap jiwa dan raganya secara tulus untuk kepentingan bangsa Negara dan masyarakat.

“Saat ini bukan lagi berbicara tentang merebut kemerdekaan, tetapi harus bisa melanjutkan dialog bagaimana mengisi kemerdekaan, memberdayaakan bangsa ini mengejar ketertinggalan kemajuan bangsa lain. Nah, pahlawan itu mampu menyediakan solusi antara masalah terjadi di masyarakat dengan solusinya,” tambah Bang Yusuf.

PKS Muda merasa perlu mengenalkan para pahlawan pemberdaya pada generasi milenial  sekarang ini, karena jumlahnya sangat sedikit. “Harapannya para milenial ini, ada yang tergerak untuk melakukan hal yang sama atau lebih baik dari pahlawan pemberdaya sebelumnya.  Akan lahir banyak pahlawan pemberdaya dari kalangan anak muda dengan konsep dan praktek yang lebih digital, lebih maju, lebih kreatif dan lebih efisien,” kata Bang Yusuf.

Seseorang yang pekerjaannya berhubungan dengan pengabdian dan pemberdayaan masyarakat juga bisa disebut pahlawan meskipun tanpa kata sandang ”gelar” dan tanpa tanda jasa. Banyak saudara – saudara kita yang profesinya itu mengabdi dan memberdayaakan masyarakat namun jarang terekspos dan jauh dari gegap gempita. Mereka ini, bekerja melayani secara tulus dan tak kenal waktu, mereka ini seperti tidak terlihat, bekerja dengan sungguh-sungguh, tapi jarang mendapat ”pengakuan”. Mereka menjadi salah satu bagian solusi dari masalah kemiskinan dan kebodohan yang merupakan problem klasik sebuah negara berkembang seperti Indonesia.

Sabtu, 10 November 2018 tepat pada Hari Pahlawan, PKS Muda Jaksel menghadirkan para pemberdaya masyarakat yakni, Pak Baron Noorwendo, Ibu Ika Tri Wilujeng, dan Alfi Irfan. Pak Baron dengan komunitas Bank Sampah, Ibu Ika dengan Komunitas Petani Kampung Muara, dan Bang Alfi sebagai founder agrisocio. Dialog dilangsung di Museum Fatahillah Kota Tua Jakarta Barat.

Sekali lagi kita semua berkepentingan agar generasi muda tidak merupakan jasa pahlawan dan sejauh mungkin bisa meneladani para pahlawan? Sejak awal perlu ditanamkan pada mereka agar selalu mengingat jasa pahlawan. Tentu, dengan meneruskan perjuangannya menjadi pahlawan – pahlawan masa kini. Tidak harus berperang mengakat senjata namun menjadi manusia yang peduli sesamanya, yang tergerajk meberdayakan lingkungannya. Patriotisme adalah jiwa pemenang, mau dan mampu berjuang dengan penuh semangat serta pantang menyerah. Rela berkorban, tidak mengharapkan imbalan apapun melainkan rela melakukan apapun dengan ketulusan hati membantu demi kebahagiaan bersama lingkungan masyarakat.

Anak – anak muda harus mau dan mampu membantu masyarakat sekitar untuk mampu keluar dari kebodohan dan kemiskinan. Meski tidak mudah mengajak sesama keluar dari kebodohan dan kemiskinan tersebut, namun dengan penuh semangat dan pantang menyerah lambat laun tentu akan menuai hasil. Hal ini dapat dilakukan dengan memberdayakan potensi – potensi lingkungan yang ada, memotivasi bahwa tidak selamanya seseorang berada pada kebodohan dan kemiskinan. Masyarakat harus bisa bangkit keluar dari kebodohan dan kemiskinan dan menjadi orang yang berdaya.

Anak muda jangan hanya berpangku tangan saja melihat sesama yang masih berada pada kemiskinan dan kebodohan. Banyak usaha bisa dilakukan untuk membela sesama keluar dari kemiskinan dan kebodohan. Melakukan pendampingan dan pengentasan kemiskinan yang berada di daerahnya dengan pemberdayaan masyarakat yang ada. Bisa dengan membentuk sebuah kelompok pemberdayaan dan membagikan keterampilan kepada masyarakat dengan berwirausaha dalam bidang industri rumah tangga, usaha pertanian, usaha perbengkelan kecil, usaha perikanan, usaha peternakan, usaha jasa, dan usaha-usaha lain. Kegiatan yang kelak bisa untuk usaha dengan modal kecil yang relatif terjangkau. Sehingga nantinya masyarakat miskin mampu berkarya dan mendapatkan penghasilan dari keterampilan yang diberikan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *