Hari Ibu, Hari Untuk Para Perencana Kepribadian Generasi Penerus Bangsa

Spread the love

Pembangunan ekasmara dewionomi di sebuah negara, tidak bisa dilepaskan dari keikutsertaan masyarakatnya tanpa terkecuali peranan wanita didalamnya. Populasi wanita di dunia yang kini hampir mencapai setengah dari populasi dunia secara keseluruhan dengan perbandingan rasio 976 : 1000 terhadap laki-laki (World Bank, 2015). Data juga menunjukan bahwa dunia kerja selama sepertiga terakhir abad ke-20 ini memasukkan jutaan kaum wanita ke dalam angkatan kerja.

Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan Indonesia setiap tahun cenderung meningkat. Pada tahun 1996 sudah mencapai 50 persen, pada tahun 2011 menjadi 70 persen, dan Februari 2016 mencapai 68 persen (BPS). Mereka mayoritas di sektor tembakau, tekstil, pakaian jadi, sepatu, kimia, plastik, elektronik, dan peralatan profesional/ilmu pengetahuan. Sementara di setor jasa mereka berada di pasar swalayan, biro-biro perjalanan, pariwisata, pendidikan, dan lain-lain. Sehingga angkanya bisa bisa jadi akan lebih besar.

Dengan kondisi ekonomi yang seperti ini, tidak aneh bila sangat sedikit perempuan yang berminat untuk beraktivitas di rumah.
Seorang perempuan dengan pendidikan tingginya dan kemudian memutuskan untuk menjadi full time mother di rumah -menjadi ibu rumah tangga, menjadi pengelola rumah tangga (domestic manager) dan mengurus rumah tangga serta mendidik anak-anaknya – justru semakin terlihat aneh.

Sementara di negara maju, gerakan ke luar rumah sudah mulai ditinggalkan oleh para kaum perempuan. Kini, perempuan global justru kian menggaungkan ajakan “back to family”. Di Amerika Serikat kesadaran itu dimulai antara lain dengan berdirinya yayasan “Mothers at Home”. Yayasan yang ketika baru berdiri hanya beranggotakan 700 orang, namun sekarang telah mencapai puluhan ribu orang. Yayasan ini mengajak para ibu untuk bekerja di dalam rumah, mendidik anak, dan merawat keluarganya.

Hasil penelitian terhadap 2.000 anak Amerika memperlihatkan adanya kemerosotan ketrampilan emosional maupun sosial dasar. Anak-anak tampak lebih resah, gampang marah, lebih murung, tidak bersemangat, lebih depresi, kesepian, lebih mudah menurutkan kata hati, tidak patuh, dan emosi negatif lainnya.

Pada hakekatnya seorang ibu mempunyai tugas utama yaitu mengatur urusan rumah tangga termasuk mengawasi, mengatur dan membimbing anak-anak. Apalagi jika ibu mempunyai anak yang masih kecil atau balita maka seorang ibu harus tahu betul bagaimana mengatur waktu dengan bijaksana. Seorang anak usia 0-5 tahun masih sangat tergantung dengan ibunya. Karena anak usia 0-5 tahun belum dapat melakukan tugas pribadinya seperti makan, mandi, belajar, dan sebagainya. Mereka masih perlu bantuan dari orang tua dalam melakukan aktivitasnya. Bila anak itu dititipkan pada seorang pembantu maka orang tua atau khususnya ibu harus tahu betul bahwa pembantu tersebut mampu membimbing dan membantu anak-anak dalam melakukan aktivitasnya. Kalau pembantu ternyata tidak dapat melakukannya maka anak-anak yang akan menderita kerugian.

Dari Abu Hurairah berkata, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw, dia berkata: Ya Rasulullah, siapa orang yang paling berhak mendapat kebaikanku?? Rasulullah saw menjawab, Ibumu. Dia bertanya lagi kemudian siapa? Rasulullah saw menjawab, Ibumu. Kemudian dia bertanya lagi, kemudian siapa? Rasulullah saw menjawab, Ibumu. Dia bertanya lagi, kemudian siapa? Rasulullah saw menjawab, bapakmu. Sebagian ulama berkata bahwa hal itu karena ibu memiliki tiga perkara yang sangat mahal yang tidak dimiliki oleh bapak yaitu: mengandung, melahirkan dan menyusui.

Pembentukan kepribadian seorang anak dimulai ketika anak berusia 0-5 tahun. Anak akan belajar dari orang-orang dan lingkungan sekitarnya tentang hal-hal yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Kadang-kadang hanya karena lingkungan yang kurang mendukung sewaktu anak masih kecil akan mengakibatkan dampak yang negatif bagi pertumbuhan kepribadian anak pada usia selanjutnya. Seperti kasus-kasus kenakalan remaja, keterlibatan anak dalam dunia narkoba, dan sebagainya bisa jadi karena pembentukan kepribadian di masa kanak-kanak yang tidak terbentuk dengan baik.

Sebagaimana kita ketahui bersama, beberapa peristiwa yang melibatkan anak atau pelajar seperti geng motor, kekerasan di kampus, bullying, tawuran dan lainnya itu semua menunjukkan betapa generasi penerus bangsa ini terlihat semakin buas dan bengis, mereka tidak segan untuk menampar, memukul, bahkan melakukan hal – hal asusila dan menyebarkannya di media sosial. Mereka bak seorang ”komandan” yang tak pernah salah dan dipersalahkan.

Peristiwa-peristiwa tersebut sudah saatnya diselesaikan atau dicarikan jalan keluar dengan baik dan bijak. Salah satunya adalah mengubah pola pengasuhan yang selama ini diserahkan kepada pembantu rumah tangga kepada Ibu. Napoleon Bonaparte pernah berkata, “Prancis lebih memerlukan seorang ibu sebelum memerlukan sesuatu yang lain”. Tidakkah demikian juga dengan bangsa Indonesia?

Sebuah data menunjukkan, pergeseran pola pengasuhan dan pendidikan sudah terjadi di Indonesia. Jika pada dekade tahun 1970-an hingga medio 1990-an pola pendidikan diasuh 60 persen oleh Ibu dan keluarga dan 40 persen di sekolah dan masyarakat, kini sudah terbalik. 70 persen lebih dilakukan di sekolah dan masyarakat dan 30 persen dilakukan di rumah. Maka tidak aneh, jika sekarang ini slogan ”rumahku surgaku” sudah tidak lagi populer.

Untuk menyelesaikan persoalan tersebut di atas, sudah saatnya keluarga atau dalam hal ini Ibu Rumah Tangga kembali ke rumah. Mereka harus mendidik anak-anaknya menjadi insan mandiri yang berkepribadian. Namun, sebelum mereka harus mendidik generasi penerus bangsa ini, Ibu Rumah Tangga harus dibekali pendidikan, ilmu pengetahuan dan keterampilan yang cukup. Ibu adalah madrasah, ia menyiapkan generasi yang berkarakter baik. Apabila para ibu tumbuh dalam ketidaktahuan, maka anak-anak akan menyusu pada kebodohan dan keterbelakangan

Perempuan sebagai calon Ibu juga harus diberi pendidikan yang lebih. Hal ini dikarenakan, merekalah yang akan melahirkan generasi-generasi penerus bangsa yang tangguh. Bagaimana mungkin bangsa ini mampu melahirkan generasi yang cerdas dan tangguh jika perempuan yang nantinya menjadi Ibu Rumah Tangga lemah dan tidak berdaya.

Maka, meningkatkan kuantitas dan kualitas pendidikan bagi perempuan menjadi sebuah keniscayaan. Perempuan perlu terus didorong untuk melanjutkan studi mereka. Perempuan yang nantinya menjadi Ibu Rumah Tangga bukanlah pekerjaan ringan, sebagaimana ada di dalam masyarakat selama ini. Mereka adalah ujung tombak masa depan bangsa ini. Dari rahim merekalah akan lahir generasi muda yang akan memimpin bangsa ini.

Dengan semakin banyaknya perempuan menempuh pendidikan tinggi dan juga bekal agama yang cukup, maka harapannya akan lahir generasi muda yang berkepribadian, cerdas, mandiri dan berakhlak. Generasi muda ini tidak akan mudah terpengaruh oleh pergaulan bebas, perkataan kasar, akhlak buruk yang akan mengantarkan mereka ke jurang kehinaan. Hal ini dikarenakan, generasi muda ini dididik dengan kasih sayang dan kelembutan orangtua. Pendidikan dengan kasih sayang inilah yang akan menghasilkan generasi muda yang bertanggung jawab.

Karena ibu adalah sekolah bagi anak – anak maka dia dituntut memiliki kemampuan-kemampuan dasar agar mampu memerankan fungsinya secara positif dan berarti kepada anaknya. Maka, berbahagia dan banggalah seorang Ibu yang menjadi Ibu Rumah Tangga yang senantiasa dapat mendidik dan mengawasi tumbuh kembang anak dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari dan seterusnya, karena masa depan bangsa ini berada di tangannya.

Sementara untuk ibu yang bekerja di luar rumah, ia harus bijaksana mengatur waktu. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga memang sangat mulia, tetapi tetap harus diingat bahwa tugas utama seorang ibu adalah mengatur rumah tangga. Ibu yang harus berangkat bekerja pagi hari dan pulang pada sore hari tetap harus meluangkan waktu untuk berkomunikasi, bercanda, memeriksa tugas-tugas sekolahnya meskipun ibu sangat capek setelah seharian bekerja di luar rumah. Tetapi pengorbanan tersebut akan menjadi suatu kebahagiaan jika melihat anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan stabil. Menjadi pemimpin-pemimpin negeri yang menginspirasi kebaikan banyak orang, bukan menistakan yang membuat menangis dan bersedih orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *