Home » Taujih » Berbuat Baik Janganlah Ditunda – Tunda

Berbuat Baik Janganlah Ditunda – Tunda

Al Mansur Hidayatullah, Lc

Sebuah syair yang dilantunkan oleh Bimbo dalam lagu yang berjudul “Jangan Ditunda-Tunda” mengingatkan kita untuk bersegera dalam berbuat baik. Dalam agama Islam, kita memang diwajibkan untuk bersegera dalam berbuat kebaikan.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133).

Allah Ta’ala juga menyuruh kita untuk berlomba-lombalah dalam kebaikan. Jadilah yang nomor satu dalam melakukan kebaikan.

“Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al Baqarah: 148).

Perintah untuk bersegera dalam kebaikan juga ada di hadits Rasulullah SAW, yaitu perintah untuk menduduki shaf pertama.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik shaf laki-laki adalah shaf pertama dan yang jelek adalah yang terakhir. Sebaik-baik shaf perempuan adalah yang terakhir dan yang jelek adalah yang awal.” (HR. Muslim no. 440).

Jika salah seorang di antara kamu hendak mengerjakan ibadah haji, maka segeralah dia mengerjakannya kaena bisa jadi dia nanti sakit, orang yang sedang dalam perjalanan bisa tersesat dan akan muncul keperluan yang baru.

”Bersegeralah melaksanakan haji, karena sesungguhnya salah seorang di antara kamu tidak mengetahui apa yang akan merintanginya.”(HR. Ahmad)

“Bersegeralah melakukan kebaikan sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118)

Allah SWT memerintahkan kita untuk melakukan mubadarah (bersegera) dalam berbuat amal kebaikan. Perintah berlomba dalam kebaikan, mengandung makna yang lebih dari sekedar perintah berbuat baik saja. Perintah berlomba dalam kebaikan memuat unsur perintah menjalankannya dengan sempurna, melaksanakannya dengan cara terbaik dan menyegerakan diri untuk mengerjakannya.

Antara kata wa saari’uu dan fastabiquu sekalipun intinya sama, yaitu bersegera dan bergegas menuju suatu tujuan, tetapi masing-masing mempunyai makna khusus. Dalam kata wa saari’uu yang ditekankan adalah kesegeraan bergerak, tanpa sedikit pun ragu, dan tanpa bertele-tele memikirkan sesuatu di luar itu, sehingga membuatnya tidak maksimal.

Adapun kata fastabiquu lebih kepada perintah berlomba jangan sampai keduluan yang lain. Di sini terkesan ada banyak orang yang masing-masing bergerak cepat dan bersegera untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam perlombaan ada tenaga ekstra yang digunakan, segala kemampuan dikerahkan sehingga cita-cita yang diinginkan bisa diraih.

Selain istilah wa saa ri’uu dan fastabquu, dalam surat Al-Hadid ayat 21 Allah SWT menggunakan istilah saabiquu, ini pengertiannya lebih dahsyat lagi. Sebab dalam kata saabiquu terkandung makna bukan hanya bersegera atau berlomba, melainkan lebih dari itu, yakni kalahkan yang lain. Dalam hal ini seorang hamba tidak hanya diajak untuk sekadar bekerja keras, melainkan juga berkualitas. Sebab jika hanya bersegera dan berlomba tetapi tidak bisa mengalahkan yang lain secara kualitas, usaha tersebut bisa dikatakan tidak efektif.

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar” (QS. Al Hadid : 21).

Penting untuk dicatat bahwa Al-Qur’an telah begitu dalam menggugah agar umat Islam tidak menjadi umat yang berleha-leha. Menjadi umat pionir dalam segala kebaikan. Tidak ada rumus istirahat dalam Al-Qur’an, maka begitu seseorang mengaku sebagai hamba Allah disaat yang sama segera bergerak melakukan segala kebaikan yang tak terhingga luasnya: dari sejak bangun tidur sampai tidur kembali, dan dari urusan masuk kamar mandi sampai urusan kenegaraan. Semua dalam Islam ada aturannya, yang jika itu semua diikuti dengan niat ketaatan kepada Allah, akan menjadi potensi kebaikan yang luar biasa pahalanya.

Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah orang-orang senantiasa berada di belakang, kecuali akan diakhirkan oleh Allâh (HR. Muslim no.130).

Di dalam atsar Abdullah Ibnu Abbas R.A mengatakan, “Tidak sempurna kebaikan kecuali dengan menyegerakannya karena jika disegerakan, hal itu akan lebih menyenangkan pihak yang berkepentingan.”

Imam An-Nawawi sampai membuat suatu bab yang berjudul “Anjuran Berbuat Baik dan Orang yang Menuju Kebaikan dengan Sungguh-Sungguh dan tanpa Ragu.”

Syaikh Salîm al-Hilâli hafizhahullâh berpesan, “Jika kesempatan (berbuat) baik muncul di hadapan seorang hamba, hendaknya ia bertekad kuat bersegera (memanfaatkan)nya untuk berbuat baik. Sebab penyakit yang biasa melunturkan semangat ialah taswîf (suka menunda-nunda) yang akan mengakibatkan kesempatan itu terlewatkan begitu saja”.

Lebih jauh, mengapa Allah menggunakan istilah yang begitu menekankan keharusan untuk bersegera dalam kebaikan?
Pertama, bahwa melakukan dan menyebarkan kebaikan (al-khairaat) adalah tugas pokok setiap insan. Tanpa kebaikan Allah manusia di muka bumi ini bisa dipastikan telah musnah sejak ratusan tahun yang silam.

Kedua, bahwa usia manusia terbatas, dan tidak ada seorang pun tahu kapan ia akan meninggal dunia. Allah berfirman,

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya” (Al-A’raaf: 34).

Seorang Mukmin harus menjadi insan yang cerdas, bersegera dalam beramal kebaikan, tidak bermalas-malasan. Jika dalam masalah dunia, seseorang bisa bersegera dan memanfaatkan kesempatan (dengan baik), maka dalam urusan akherat ia pun harus demikian pula, bahkan harus lebih dari itu.

Manusia harus bergegas dalam melaksanakan kebaikan. Jika dia ingat suatu kebaikan, maka bersegeralah melaksanakannya, di antaranya adalah shalat, sedekah, puasa, haji, berbakti pada orang tua, menyambung silaturahim, dan kebaikan-kebaikan lain yang harus segera dilaksanakan.

Bila kita menunda-nunda amal baik bisa menyebabkan niat kita menjadi berubah karena ketika kita menunda-nunda berbuat baik, sama dengan membuka kesempatan pada hawa nafsu dan kepada syetan untuk mengganggu dan menggoda diri kita untuk tidak melakukan kebaikan karena hawa nafsu dan setan senantiasa mengajak kepada keburukan dan menghalangi untuk berbuat kebaikan.

Dikisahkan, “Seorang saleh yang sedang berada di kamar mandi, pernah memanggil budaknya dan menyuruhnya untuk memberikan sedekah kepada seseorang.  Maka, budak itu berkata kepadanya, “Mengapa tuan tidak bersabar dulu, hingga tuan keluar dari kamar mandi?” Dia menjawab, “Saya mempunyai niat untuk berbuat baik dan saya takut niat itu berubah. Oleh karena itu, begitu mempunyai niat, saya segera mengikutinya dan melaksanakannya.”

Yang disebut amalan sholih adalah jika memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas pada Allah SWT dan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW, jika tidak memenuhi syarat ini, maka suatu amalan tidaklah diterima di sisi Allah SWT.

*) Taujih disampaikan di hadapan kader PKS Jaksel, Jumat (3/11)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>