Asmara Dewi : Don’t Worry, Pemilih Perempuan PKS Masih Terkenal Paling Solid

Spread the love

Pada pemilu 2014 jumlah caleg perempuan DPR RI sebanyak 2.467 orang (37 persen), sementara jumlah caleg laki- lakinya sebanyak 4.152. Jumlah claeg perempuan ini lebih banyak dibanding pada Pemilu 2009. Namun secara keterpilihan, dari total 560 anggota DPR RI, hanya 97 orang caleg perempuan yang terpilih pada pemilu 2014. Jumlah ini lebih sedikit dibanding pada pemilu 2009 dimana ada 104 aleg perempuan di DPR RI.

Namun kesadaran berpolitik perempuan di DKI Jakarta sudah lebih tinggi dibandingkan dengan laki-lakinya. Hal ini terlihat dari angka partisipasi pemilih perempuan di Pilkada DKI Jakarta pada putaran kedua yang mencapai 79,8 persen. Dari total pemilih perempuan sebanyak 3,59 juta jiwa, yang menggunakan hak pilihnya mencapai 2,87 juta jiwa.

Demikian juga pada pilkada 2018 yang akan digelar, jumlah partisipasi perempuan mendaftar sebagai calon kepala daerah atau wakil sebesar 8,85 persen, dengan rincian dari 1.140 pendaftar calon kepala daerah baik untuk calon gubernur, calon bupati, maupun calon wali kota di seluruh wilayah yang menggelar pilkada, 101 orang merupakan kaum perempuan. Dari 101 jumlah perempuan yang menjadi calon kepala daerah, 86 di antaranya didukung partai politik dan 15 melalui jalur perseorangan. Angka partisipasi pada pilkada 2018 ini jauh lebih tinggi dibandingkan pada Pilkada 2015 (7,47 persen) maupun 2017 (7,17 persen).

Ibu Asmara Dewi, Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) PKS Jaksel menyatakan bahwa, “Dalam pemilihan legislatif, pemilih perempuan kini lebih cenderung memilih calon yang perempuan juga.” Sebanyak 70 persen publik mempercayai perempuan diyakini lebih mampu menahan nafsu serakahnya untuk tidak melakukan korupsi. Sehingga kalau ada anggapan pemilih perempuan lebih cenderung memilih calon legislatif ataupun capres yang bertampang ganteng adalah kurang benar. Sebanyak 30 persen calon perempuan yang diusung dalam pilkada propinsi, kabupaten, dan kota berhasil menang. “Fakta dilapangan ternyata mereka mayoritas dipilih dan didukung pemilih perempuan juga,” ungkap Ibu Asmara Dewi.

Kurang lebih setengah penduduk Indonesia saat ini adalah perempuan, sehingga perempuan merupakan “konsumen politik” potensial yang tidak bisa diabaikan. Pemilih perempuan memang menarik untuk dibidik. Pemberlakuan sistem afirmatif dimana parpol harus minimal memiliki 30 persen caleg perempuan, maka para caleg perempuan ini harus didorong fokus menggarap segmen perempuan karena kedekatan emosionalnya.

Ibu Asmara Dewi juga mengingatkan bahwa banyak kaum wanita yang dalam menentukan pilihannya masih menggunakan perasaan dibanding logika. Banyak pemilih perempuan yang mudah dipengaruhi oleh pencitraan yang baik dari kandidat politik. Pemilih perempuan tidak jarang akan mengulik info – info mengenai keharmonisan keluarga masing – masing capres ataupun para caleg.

“Satu fenomena lagi yang ditemukan, bahwa pemilih perempuan ketika sudah menemukan satu pilihan calegnya atau partainya yang cocok maka jarang pindah ke caleg lain, mereka yakin dengan pilihannya sendiri. Sedikit berbeda dengan tipikal pemilih laki – laki, yang sering berubah-ubah karena berbagai hal terkait materi dan sebagainya,” ujar Ibu Asmara Dewi.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan partai politik peserta pemilu 2019 yang memiliki pemilih wanita paling solid dan militan. Kesolidan dan kemilitanan para pemilih wanita PKS adalah karena ideologi partai dan juga faktor kedekatan emosional dengan caleg-calegnya. Profil caleg – caleg perempuan PKS, mayoritas adalah tokoh – tokoh lama di lingkungannya masing – masing, dan ini adalah point tersendiri yang jarang dimiliki partai lain. Mereka, para perempuan itu sudah terbiasa memilih PKS dari pemilu ke pemilu yang lalu. Sehingga walaupun diterpa gonjang – ganjing apapun selama ini, ternyata partai ini “tetap seksi” di kalangan para pemilih wanita. PKS tetap bisa berjalan dan bisa mempertahankan basisnya, termasuk di dalamnya para pemilih perempuannya yang fanatik, solid dan militan itu.

PKS dinilai masih memiliki posisi tawar yang bagus. PKS memiliki kader yang militan, kadernya mudah digerakkan, punya anggota yang jelas dan juga solid. Termasuk di dalamnya yakni para pemilih – pemilih setianya yang didominasi kaum perempuan. Pemilih perempuan PKS jarang terpengaruh dengan manipulasi pencitraan maupun framing berita media, sehingga mereka mengetahui betul kandidat mana caleg yang mempunyai integritas baik.

Keterwakilan PKS di legislatif pun kian tahun kian meningkat. Perempuan masih dibutuhkan dalam setiap pengambilan keputusan, seluruh kebijakan negara hampir semuanya berurusan dengan perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *