Home » Taujih » Al Mansur : Hadapi Putaran Selanjutnya, Kader Harus Mencontoh Kisah Ketaatan Sahabat di Hamra’ul Asad

Al Mansur : Hadapi Putaran Selanjutnya, Kader Harus Mencontoh Kisah Ketaatan Sahabat di Hamra’ul Asad

al mansur dpd pks jakselDalam konsoidasi Pemenangan putaran final Pilkada DKI, PKS Jaksel menghadirkan 200-an orang pengurus DPD, DPC hingga DPRa. Di acara tersebut, Ketua DPD PKS Jaksel, Al Mansur Hidayatullah menyatakan bahwa, “Untuk menghadapi putaran Selanjutnya yang diperkirakan banyak pihak akan berlangsung lebih sengit, kader tidak boleh kendor apalagi lengah. Kader harus mencontoh akhlak ketaatan sahabat di Hamra’ul Asad.”

Setelah hari Uhud berlalu, dengan segala kepiluan dan luka, di mana di medan itu terbunuh tujuh puluh sahabat Nabi yang mulia. Musuh merasa mereka telah meluluhlantakkan pondasi-pondasi kekuatan kaum muslimin. Di saat itu Nabi saw merasa sangat khawatir kaum musyrikin akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menggempur Madinah yang di sana ada anak-anak, kaum wanita dan harta benda mereka.

Setelah menunaikan shalat shubuh bersama para sahabat, Nabi saw memerintahkan Bilal untuk mengumumkan kepada para sahabat yang kemarin ikut berperang untuk mengejar musuh. Untuk aksi ini, yang boleh ikut serta hanya mereka yang kemarin bergabung bersama pasukan Uhud, kata sang Nabi. Dapat dibayangkan betapa beratnya tugas ini, mereka baru melepas penat, darah masih basah dan perih itu masih terasa lekat di tubuh mereka, tiba-tiba mereka mendapat perintah untuk angkat senjata kembali. Allahu Akbar.

Saat mendengar perintah Nabi saw yang dikumandang Bilal itu, Sa’ad bin Muadz segera beranjak menuju kaumnya untuk memberitahu mereka agar memakai kembali pakaian perang. Sa’ad berkata, “Aku menyaksikan darah di tubuh mereka masih merah. Mayoritas Bani Asyhal terluka, bahkan semuanya.” Ketika itu juga, Usaid bin Hudhair yang sedang didera tujuh luka bangkit dan berkata, “Aku menyambut seruan Allah dan RasulNya” lalu ia ambil senjatanya tanpa peduli dengan perih luka yang ia derita. Sa’ad bin Ubadah juga segera mendatangi kaumnya, dan mereka pun menyambut dengan sigap. Demikian juga Abu Ubadah, datang kepada kaumnya yang sedang mengobati luka-luka mereka, dan mereka pun bersegera menyambut panggilan Allah dan rasulNya tanpa peduli luka-luka yang menganga itu.

Dari Bani Salimah keluar empat puluh orang yang sedang mengalami cedera berat, ada Thufail bin Nu’man yang membawa tiga belas lukanya, ada Bakhrasy bin ash-Shamah dengan derita sepuluh luka, Ka’b bin Malik mengalami belasan luka, begitu juga Quthbah bin Amir ada sembilan luka. Mereka berkumpul bershaf menghadap Nabi saw, lengkap dengan senjata dan semangat mereka yang membara. Ketika melihat kondisi mereka, dengan darah yang masih basah dan luka yang masih merah, sang Nabi bersabda dengan penuh rasa, “Ya Allah, sayangilah Bani Salimah.”

Ada lagi kisah dua bersaudara Abdullah bin Sahl dan Rafi’ bin Sahl bin Abdul Asyhal. Keduanya pulang dari Uhud dengan luka serius. Namun, ketika besoknya mereka mendengar kabar tersebut, berkata salah seorang di antara keduanya kepada yang lain, “Demi Allah, jika kita tidak ikut berperang bersama Rasulullah sungguh kita sangat merugi. Namun apa daya kita tidak punya tunggangan, lalu bagamana ini?” saudaranya berkata “Mari kita berangkat” yang lain menjawab, “Demi Allah, Aku tidak dapat berjalan dengan baik.” Saudaranya berkata, “Baiklah, kita berjalan pelan-pelan” maka mereka berdua berjalan tertatih-tatih. Ketika Rafi’ merasa tidak kuat, saudaranya menggendongnya. Dan ketika Abdullah merasakan payah, maka giliran Rafi’ yang menggendong, hingga mereka sampai di camp Nabi di waktu isya. Ketika melihat dua sahabatnya ini, beliaupun mendoakan kebaikan bagi mereka. subhanallah…

Nabi keluar bersama mereka dalam kondisi masih cedera berat, tubuh beliau terluka, kening beliau masih bersimbah luka dan geraham beliau hancur. Beliau dan para sahabat membuat camp di daerah Hamra’ul Asad dengan perbekalan yang seadanya. Namun demikian, semangat yang terpancar dari aura sang Nabi dapat ditangkap jelas oleh para sahabat bahwa itu pertanda kemenangan yang semakin dekat. Di suatu kesempatan beliau bertutur kepada Thalhah, “Wahai Thalhah, sunggu mereka tidak akan mampu menaklukkan kita seperti kemarin sampai Allah mengizinkan kita menaklukkan Mekah kelak.”

Hamra’ul Asad adalah saksi sejarah tentang keahlian Nabi saw dalam merancang strategi perang. Siang hari, beliau perintahkan para sahabat untuk mengumpulkan kayu bakar. Kemudia pada malam hari, setiap prajurit harus membuat api unggun. Maka pada malam itu, terjadilah parade api unggun yang jumlahnya sampai lima ratus api unggun. Kepulan asap dan nyala api yang dahsyat inilah yang menggentarkan musuh yang sejak kemarin masih beristirahat di daerah dekat situ. Menyaksikan kobaran api itu, musuh yang sama sekali tidak pernah berpikir akan dikejar dan dalam kondisi sangat tidak siap, akhirnya melarikan diri ke Mekkah.

Hamra’ul Asad adalah kisah keberanian dan ketangguhan Rosulullah dan para sahabat mulia. Hamra’ul Asad menjadi saksi sebuah ketaatan tiada bandingnya, saksi atas cinta yang tiada pernah padam di berbagai keadaan. Rasa sakit, keletihan, kepayahan, duka cita yang tak hanya dirasa oleh fisik tapi juga membebani mental tak membuat mereka abai ketika seruan Rasulullah dikumandangkan. Sungguh gambaran akan ketaatan yang membuat diri semakin kerdil jika dibandingkan dengan mereka. Saat ini, kala jiwa dipenuhi kecintaan pada materi, kala sakit fisik dan keletihan sedikit dijadikan alasan tertahannya banyak kebaikan dan terhentinya panggilan dakwah, kisah mereka dalam mengijabahi panggilan dakwah membuat malu.

Hamra’ul Asad mengajarkan kepada kita sebuah ketaatan pada Allah dan RosulNya yang tak memerlukan alasan apapun. Mengajarkan kepada kita bahwa tawakkal adalah menyerahkan hasil pada Allah setelah ketaatan dijalankan. Hamra’ul Asad contoh ketaatan tiada cela. Hamra’ul Asad adalah kisah keberanian dan keteguhan. Hamra’ul Asad adalah cerita tentang pengorbanan dan kesigapan. Hamra’ul Asad adalah riwayat tentang strategi dan ketawakkalan. Hamra’ul asad, di sana ada manusia-manusia mulia yang jauh lebih mencintai akhirat dibanding dunia yang fana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>