Home » Jakarta » Al Mansur : Bemo Jangan Dihapuskan, Tetapi Manfaatkan Untuk Daya Tarik Wisata Jakarta

Al Mansur : Bemo Jangan Dihapuskan, Tetapi Manfaatkan Untuk Daya Tarik Wisata Jakarta

al mansur dpd pks jakselBeredar informasi bahwa belum lama ini Dinas Perhubungan DKI Jakarta telah mengeluarkan surat dilarangnya bemo beroperasi sebagai angkutan umum di Jakarta, apakah itu artinya keberadaan bemo tidak lama lagi akan terhapus dari wajah Jakarta?

Menyikapi kebijakan penghapusan bemo, Ketua PKS Jaksel, Al Mansur Hidayatullah mengatakan seharusnya pemprov jangan hanya bisa menghapus, tetapi juga harus bisa memberi solusi alternatif. “Jika ada pelarangan atau penghapusan bemo, maka pemerintah seharusnya memberikan solusi alternatifnya agar penghasilan pengemudi tetap terjaga dan tidak timbul pengangguran baru,” ujarnya, Ahad (18/6).

Bemo yang merupakan kependekan dari becak motor, sebuah kendaraan roda tiga yang diperkirakan muncul sejak tahun 1960-an di Jakarta. Bemo memiliki akar sejarah dalam transportasi di Jakarta. Bemo pertama kali diperkenalkan sekitar tahun 1960 sebagai angkutan umum oleh Bung Karno pada saat penyelenggaraan Ganefo.

Sebenarnya sejak 1996 Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengeluarkan undang-undang soal keberadaan bemo, yang dihapus dari ibukota. Ketika angkutan umum modern sudah bebas lalu lalang di jalanan ibu kota, bemo tetap masih bertahan dan bisa ditemui. Saat ini keberadaan bemo sudah sangat langka. Namun, masih ada wilayah di Jakarta Selatan yang masih mengoperasikan bemo sebagai kendaraan umum sehari-hari, yakni di daerah Manggarai.

Bemo dapat memuat 7 penumpang dalam sekali jalan. Tidak seperti bajaj yang hanya memuat maksimal 3 orang, atau angkutan umum yang bisa memuat 11 orang. Bemo berada di tengah keduanya. Tarifnya pun sangat murah, 3–4 ribu rupiah per orangnya.

Dengan ukuran yang ramping, bemo tidak kalah dengan bajaj sehingga bisa melewati pinggir-pinggir jalan dan tidak perlu bermacet-macetan bersama mobil. Memang tidak seramping motor, namun untuk jarak dekat bemo jadi yang tercepat dan termurah.

Pada saat itu, tahun 1960-an bemo merupakan salah satu alat transportasi yang ikut menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di Jakarta. Masuknya bemo saat itu membuat jalanan Ibu Kota menjadi ramai.
Supir bemo mayoritas adalah masyarakat bawah, yang merupakan komunitas warga manggarai dan sekitarnya. Menjadi supir bemo merupakan mata pencaharian bagi mereka yang mayoritas adalah pria hampir atau sudah lanjut usia. Sehari mereka bisa mendapatkan penghasilan bersih sekitar 50-75 ribu rupiah. Hingga 2008, masih ada sekitar 500-an pengemudi bemo Jakarta yang masih menggantungkan hidupnya di sana.

“Apalagi bemo adalah salah satu warisan almarhum Bung Karno, Beliau pernah berpesan kepada Bangsa Indonesia untuk menjaga barang antik bernama Bemo. Jadi bemo itu termasuk bagian dari sejarah juga,” tambah Al Mansur yang juga warga asli Betawi ini.

Al Mansur juga mengatakan bahwa masih banyak alternatif solusi daripada menghapuskan bemo. “Keberadaan bemo harusnya bukan dihapuskan tetapi diatur dan dimanage untuk membantu kegiatan pariwisata Jakarta. Potensi seperti itu, bisa dilihat di Bangkok yang masih mengizinkan kendaraan sejenis bajaj dan bemo (tuk – tuk) untuk beroperasi.”

Untuk menunjang wisata dan mengurangi efek polusi lingkungan, pembaharuan bemo juga bisa dilakukan, misalnya mengusulkan prototipe bemo listrik maupun bemo dengan baterai yang lebih ramah lingkungan. “Tetapi untuk perubahan ke bemo listrik ataupun bemo baterai, mereka harus diberi kemudahan saat mencoba mengajukan Kredit Usaha Kecil (KUK) ke Bank DKI misalnya,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>