Home » Jakarta » Agus : Jakarta Periode Lalu, Kurang Perhatian Terhadap Perkembangan Pertanian Kota

Agus : Jakarta Periode Lalu, Kurang Perhatian Terhadap Perkembangan Pertanian Kota

hidroponik

Agus Priyona – Ketua Bidang Pekerja Petani dan Nelayan (BPPN) PKS Jaksel

Lahan pertanian di Jakarta setiap waktu semakin mengalami penyempitan setiap tahun, luas lahan turun puluhan hektare dibanding tahun sebelumnya. Luas lahan yang ada pun dimiliki oleh perusahaan pengembang, sedangkan warga hanya memiliki sekitar 10 persen. Kondisi ini membuat para petani menjadi lesu akibat ketiadaan lahan untuk menanam.

Sementara selama 17 tahun atau sejak tahun 2000-an hingga 2017 ini, pertambahan luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta tidak sampai satu persen. Pada 2000 RTH Jakarta itu baru 9 persen, dan sekarang 2017 9,98 persen. Angka ini masih jauh dari kebutuhan ideal RTH kota yang diwajibkan dalam Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang, yakni sebesar 30 persen dari total luas kota. RTH 30 persen tersebut rinciannya terdiri dari 20 persen RTH Publik dan 10 persen RTH Privat.

Kami juga melihat geliat warga Ibukota, terhadap pertanian kota semangkin meningkat. Hal ini, sebagaimana terlihat dengan semakin bertambahnya komunitas – komunitas petani kota, seperti yang ada di bawah binaan PKS Jaksel.

Di negara kecil seperti Singapura, Sky Greens sukses menerapkan pertanian vertikal. Aquaponik dalam ruangan, telah dikembangkan di Chicago, Amerika Serikat dan produksinya diklaim mencapai 15 kali lebih banyak dibandingkan pertanian tradisional. Di Tokyo Jepang terdapat bangunan kantor yang disebut dengan Pasona, mereka merenovasi bangunan 9 lantai dan menghiasi dengan ‘kesuburan’ dan dinding hijau. Tidak hanya terbatas pada hijaunya eksterior bangunan, penghijauan juga dilakukan di dalam bangunan. Terdapat fasilitas pertanian perkotaan yang menempati sekitar 20% dari seluruh ruang kantor, meliputi 200 jenis buah-buahan, sayuran dan padi. Para pekerja kantor secara bergiliran membantu menjaga dan memanen hasil pertanian. Sebagian besar hasil pertanian nantinya akan disajikan di kantin kantor.

Sedangkan Jakarta, urban farming baru pada tahan menginisiasi kegiatan tersebut. Namun, belum ada grand design untuk menyatukan upaya pengembangan urban farming di Ibu Kota. Belum ada peraturan daerah yang ‘memaksa’ gedung dan bangunan menyediakan sebagian lahannya untuk urban farming. Grand design pertanian kota penting, agar terbentuk kerangka acuan dalam pengembangan urban farming. Cita – citanya, kebutuhan pangan warga Jakarta bisa disuplai oleh petani kota, dengan hasil yang lebih segar, sehat, dan tentu ramah lingkungan.

24 September 2017, Selamat Hari Petani Nasional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>